Teh

Budidaya Perkebunan Teh Organik

Budidaya Perkebunan Teh Organik. Seperti umumnya tanaman teh yang tumbuh sangat baik di dataran tinggi, tinggi tempat yang optimum 800 – 2.000 m dari permukaan laut atau lebih. Teh yang tumbuh pada ketinggian lebih dari 1200 m dpl kualitasnya lebih baik. Suhu udara berkisar antara 13°C-25°C, Cahaya matahari yang cerah dan kelembaban relatif pada siang hari tidak kurang 70%.Curah hujan rata-rata sepuluh tahun terakhir menunjukkan bulan kemarau curah hujannya kurang dari 60 mm. Jumlah hujan tidak kurang dari 2.000 mm per tahun.

Makin banyak sinar matahari makin cepat pertumbuhan, sepanjang curah hujan mencukupi.(PPTK, 1997). PTPN VIII (2005) dalam Nurawan, (2005) , mengembangkan teh organik di wilayah Rancabolang, kecamatan Bandung Selatan pada ketinggian 1850-2200 m dpl, curah hujan berkisar antara 2500-3500 mm/tahun, dengan bulan kering 3-4 bulan. Berhawa dingin temperatur minimum dan maksimum 8o C sampai dengan 24o C. Lingkungan kebun terletak paling atas, jauh dari kegiatan petanian masyarakat, serta dikelilingi hutan lindung, sehingga sangat ideal untuk kebun teh organik. Sesuai ditanam pada jenis tanah andosol yang berbahan dasar liat berpasir, struktur remah yang mengandung bahan organik yang berasal dari volkano.

1. Persiapan Kebun Teh Organik

• Areal Yang Sudah ditanami Teh
Bagi kebun yang sudah ditanami teh, kegiatan pertama adalah melakukan konversi lahan menuju ke pertanian organik. Konversi lahan dilakukan selama 3 tahun (masa transisi) dibawah pengawasan badan sertifi kasi SKAL dari negeri Belanda sebagai salah satu anggota Control Union World Group yang melegalisasi produk organik tingkat dunia (PTPN, VIII, 2004 dalam Nurawan, 2005) Perkebunan teh organik harus terpisah dari perkebunan teh konvensional. Pemisahan ini dapat berupa jalan, parit, semak, pepohonan, barisan yang kosong, kebun lain, gunung, dll untuk mencegah kontaminasi bahan-bahan yang tidak diperbolehkan dalam budidaya organik baik melalui rembesan, angin, pelindian. Pemilihan lokasi kebun teh organik adalah areal yang bukan endemik terserang OPT. Kebun teh yang berada pada dataran tinggi dan tidak ada masalah ledakan serangga hama, sangat baik untuk mengusahaan kebun teh organik. Saat mulai ke masa konversi dapat dinyatakan dengan pernyataan tertulis dari Managemen atau Pemerintah Daerah (Kepala Desa). Lama masa konversi tergantung dari standar yang digunakan. Menurut Council Regulation (EEC) No. 2092/91 masa konversi untuk tanaman musiman 2 tahun dan untuk tanaman tahunan 3 tahun (EEC. 2000). Masa konversi menurut IFOAM (2000) adalah 12 bulan. Untuk tanaman tahunan 18 bulan.

Baca Juga :  Jawa Barat Banyak Lahan Dataran Tinggi yang Sangat Sesuai Untuk Pertumbuhan Teh

2. Penanaman Baru (New Planting) Teh Organik

a. Persiapan lahan untuk penanaman baru (newplanting)

Ada beberapa tahapan yang perlu dilalui bila mengembangkan perkebunan teh organik di areal penanaman baru sebagai berikut :

1) Survei dan pemetaan tanah dilakukan untuk menentukan lahan yang sesuai untuk teh organik, Lahan untuk penanaman baru dapat berupa hutan belantara, semak belukar atau lahan lahan yang dikonversikan ke tanaman teh, Kedalaman solum 60 cm, tanah harus dalam keadaan gembur, tanah harus bersih dari sisa-sisa akar dan kayu-kayuan, dan Jangka waktu persiapan lahan dengan waktu penanaman kurang lebih 2-3 bulan.

b. Bahan Tanaman

Klon teh yang ditanam adalah klon teh yang memenuhi persyaratan seperti, tahan terhadap serangan opt, mampu beradaptasi dengan iklim lokal, tahan terhadap beberapa stres (kekeringan, hara, dll); berpotensi hasil tinggi. Puslit Teh dan Kina sudah mempunyai klonklon teh yang mendekati sifat-sifat tersebut. Minimal ada 5 (lima) jenis klon yang ditanam, agar keanekaragamannya lebih besar, sehingga resiko yang akan diperoleh bila terjadi ledakan hama atau penyakit semakin kecil. Semua bibit dan bahan tanaman harus bersertifikat organik; bila tidak ada alternatif lain yang tersedia, bibit dan bahan tanaman hasil pertanian konvensional dapat digunakan.

Klon teh yang dianjurkan oleh PPTK adalah Klon teh seri GMB1, BMB 2, GMB 3, GMB 4, GMB 5, GMB 6, GMB 7, GMB 8, GMB 9, GMB 10, DAN GMB 11, yang mempunyai potensi hasil 4,0 – 5,8 ton/ha/thn, dan tahan terhadap serangan penyakit cacar teh. Untuk jenis sinensis adalah klon GMBS 1, GMBS 2M GMBS 3, GMBS 4, dan GMBS 5, yang mempunyai potensi produksi lebih tinggi dari klon teh Yabukita dari Jepang. Jenis klon ini khusus untuk bahan baku teh hijau.

Tabel 3. Produksi teh kering, kualitas dan ketahanan terhadap penyakit cacar daun klon GMB 1 sampai GMB 11

Baca Juga :  Ekspor Teh Jadi Komoditas Unggulan Agrobisnis Petani Jawa Barat

 

 

c. Penanaman Pohon Pelindung Teh Organik
Pengalaman budidaya teh organik Harwiyanto, et. al.( 2001), bahwa penanaman pohon pelindung bertujuan untuk : 1) meningkatkan keragaman tanaman, untuk meningkatkan keragaman serangga
dan musuh alami,

2) memperbaiki lingkungan tempat hidup dan perkembang biakan burung, dan 3) menambah bahan organik yang diperlukan oleh tanaman teh.

d. Tanaman pelindung sementara
Tanaman pelindung sementara, adalah tanaman pelindung yang digunakan saat tanaman teh masih kecil dan juga digunakan untuk menambah bahan organik dan unsur hara nitrogen. (Allison,1973). Umumnya yang digunakan adalah jenis kacangkacangan misalnya Crotalaria sp., Tephrosia sp, Sesbania sesban dan Mogania. Setelah dipanen tanaman ini dibenamkan dalam tanah di sekitar tanaman teh.

e. Tanaman pelindung tetap
Pohon pelindung diperlukan setelah tanaman pelindung sementara tidak lagi dapat dipertahankan (2-3 tahun). Sebaiknya setelah tanaman teh berumur 2-3 tahun, tanaman pelindung ini sudah berfungsi. Untuk itu pohon pelindung ditanam 1 tahun atau bersamaan dengan tanaman teh. Jenis pohon pelindung tetap diantaranya: Lamtoro (Leucaena leucichepala), salmander (Grevilea robusta), Glerisidia (Gliricydia maculata), nimba (Azadirahta indica),
mindi (Melia azedarah), Sagawe (Abrus precatorium), Malaktika, Suren (Tona sureni), Kayu bogor (Mesopsis manii), Sengon (Albisia sinensis), kayu manis, kina, dan Ramayana.

Tabel 4. Deskripsi beberapa pohon pelindung teh

 

 

f. Pemupukan
Pemupukan teh organik hanya dilakukan dengan menggunakan pupuk organik. Pupuk organik yang digunakan pupuk kompos (Bio organic growth) dengan dosis 1500 kg/ha dan guano (pupuk yang berasal dari kotoran hewan) dengan dosis 500 kg/ha (PTP N, VIII, 2005). Pada tahun belakangan dapat juga digunakan pupuk organik alam hijau produk dari Agrimas Cipta Mandiri (Konsultasi pribadi dengan Adiminstratur kebun Rancabolang). Kualitas hara diatur dengan prinsip keseimbangan hara. Pupuk buatan tidak boleh digunakan,bukan karena residunya, melainkan karena dalam pembuatannya memerlukan energi yang tinggi.Pupuk guano (KNO3) dapat digunakan. Rock phosphate dari hasil tambang diperbolehkan dengan takaran 40 kg/ha. Kieserit dan dolomit juga boleh digunakan dengan syarat kadar kadmium (Cd) tidak lebih dari 90 ppm. Sebagai sumber nitrogen (N) untuk substitusi N dari urea dan ZA dapat digunakan pangkasan pohon pelindung, tananam leguminosa maupun dengan produk organik.(PPTK Gambung, 2005). Pemupukan dengan pupuk organik dilakukan pada saat musim kemarau, hal ini
disesuaikan dengan tekstur pupuk organik yang berat dan lengket.

Baca Juga :  Cara Tanam Teh dan Jenis Teh Yang Tersebar Di Indonesia

Tabel 5. Salah satu contoh komposisi pupuk teh organik di Kebun organik Rancabolang (PTPN VIII)

 

g. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
Sesuai dengan prinsip dan tujuan budidaya teh organik, konsep pengendalian OPT dalam budidaya organik tidak hanya sekedar meninggalkan penggunaan pestisida, tetapi lebih dari itu yaitu pengendalian OPT harus merupakan pendekatan aktif yang menjamin perlindungan/konservasi dan keseimbangan lingkungan untuk mendukung keberlanjutan produksi teh (Anonim, 1991 dalam Rayati, et al, 2001).

Bila kebun teh organik di tempatkan pada ketinggian 2.200 m dpl. berdasarkan teori kebun dengan ketinggian tersebut relatif aman dari serangan hama dan penyakit terutama hama Helopeltis antonii, Empoasca sp dan penyakit akar Ganoderma pseudoferreum.

Dalam upaya pengendalian OPT diharuskan menggunakan caracara dengan menghindari penggunaan bahan kimia sintetis yang menimbulkan efek residu. Pengendalian OPT hanya dapat dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik pengendalian organik seperti penggunaan klon tahan terhadap OPT, pengendalian cara kultur teknis, pengendalian cara biologi dan penggunaan fungisida tembaga yang dibatasi. Memang kontroversi dari dari beberapa
lembaga standar produk organik seperti IFOAM, OCIA, EEC maupun SKAL masih terdapat perbedaan. Sebagai contoh standar organik SKAL masih membolehkan meggunakan fungisida Kocide 77 WP dan Mustard dengan dosis rendah 0,25 kg/ha. Penyemprotan dilakukan seminggu sebelum dipetik dan satu hari setelah dipetik, karena dalam jangka waktu tersebut efek fungisida sudah tercuci. Penggunaan pestisida nabati hanya boleh digunakan apabila didokumentasikan dengan baik dan mendapat persetujuan dari organisasi sertifi kasi.

Hasil pengkajian Nurawan dan Haryati,(2010) insektisida nabati suren sangat efektif dalam mengendalikan hama ulat jengkal (Hyposidra talaca) pada tanaman teh dengan menurunkan intensitas serangan hingga 0%.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top
error: Content is protected !!