Kambing

Fanatisme Peternak Memilih Ras Kambing

Perbaikan genetik kambing terus dilakukan untuk menghasilkan produktivitas yang maksimal. Perlu edukasi secara berkesinambungan agar konsumsi produk susu kambing semakin memasyarakat

Merasakan khasiat yang luar biasa dari hasil olahan susu kambing mendorong Endah Subi Puspaningrum untuk beternak kambing perah di 2010. Sakit mag, vertigo, dan kista yang diderita peternak di Pasuruan Jawa Timur ini berangsur-angsur hilang setelah rutin melakukan terapi meminum kefir yang merupakan produk olahan susu kambing.

Dengan memelihara mulai 6 ekor, kini Endah memiliki populasi kambing sekitar 200 ekor dengan jenis saanen, sapera (persilangan saanen dan PE), senduro, PE (peranakan etawa), dan boer. Kebanyakan kambing yang dipelihara berjenis sapera karena memiliki produksi susu yang tinggi untuk memenuhi permintaan pasar sekitar 100 liter per minggu. “Saya tidak bisa memenuhi semua permintaan sehingga saya membina peternak sekitar agar memasok susu segarnya ke saya,” ungkapnya kepada TROBOS Livestock.

Susu segar itu oleh Endah diolah menjadi yoghurt dan kefir yang dalam seminggu bisa memenuhi permintaan sekitar 500 liter kefir yang sudah dipasarkan seperti ke Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan Makassar baik secara offline maupun online. “Bisnis olahan susu kambing ini sangat menjanjikan karena harganya bagus dan masih tinggi dibandingkan susu sapi serta berkasiat untuk kesehatan. Sebagai rasa terima kasih atas kesembuhan saya dari sakit melalui olahan susu kambing ini maka dalam menjual produk saya tidak memikirkan keuntungan yang tinggi bahkan bisa diberikan secara gratis. Yang penting manfaat susu kambing dan olahannya ini bisa dirasakan banyak orang,” kilahnya.

Ia pun banyak mengajak orang memelihara minimal 1 ekor kambing laktasi agar susu segarnya bisa diminum atau diolah minimal untuk konsumsi sendiri. Tidak seperti ketika di awal memulai usaha, pemasaran produk olahan susu kambingnya tidak mengalami kendala yang berarti. “Masyarakat sudah mulai melek dan mengenal manfaat susu kambing ini serta tertarik untuk beternak kambing perah sehingga perlu pembinaan yang berkelanjutan dari pemerintah agar semangat peternak tetap terpelihara,” tuntut Endah.

Baca Juga :  Analisa dan Prospek Usaha Kambing Etawa Menguntungkan
adjuvant online breast cancer, advanced breast cancer, articles on breast cancer, best breast cancer hospitals, breakthrough breast cancer breast cancer treatment, Breast Cancer, breast cancer articles, breast cancer australia, breast cancer awareness, breast cancer awareness month, breast cancer campaign, breast cancer causes, breast cancer charities, breast cancer charity, breast cancer cure, breast cancer definition, breast cancer diagnosis, breast cancer facts, breast cancer foundation, breast cancer images, breast cancer in men, Breast Cancer Information, mesothelioma cancer

Tati, peternak kambing perah di daerah Bumiaji, Kota Batu, Malang Jawa Timur juga sudah merasakan manfaat dari usaha peternakannya. Pemilik Madukara (maju dalam usaha keluarga dan sejahtera) Farm yang sudah beternak sejak 2011 ini tertarik memelihara karena ingin menghasilkan susu yang berkualitas baik dan tidak bau. Kini dari populasi awal sebanyak 2 ekor telah berkembang menjadi 198 ekor yang 80 % diantaranya merupakan kambing PE sementara sisanya kambing senduro dan saanen. Dari 35 ekor kambing laktasi yang diperah, Tati bisa mendapatkan sekitar 30 liter susu per hari dan 16 liter diantaranya digunakan kembali untukcempe (anak kambing).

 

Ia berpendapat, susu kambing memiliki gizi yang tinggi dan mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh. Susu kambing dengan kualitas yang baik dipengaruhi asupan pakan dan pemeliharaan yang baik pula. “Anak kecil kalau minum susu sapi bisa diare, tapi kalau minum susu kambing aman. Sebagai uji coba, cucu saya umur 3,5 bulan diberi susu kambing, pertahanan tubuhnya lebih bagus dan tidak gampang alergi. Banyak orang juga meminum susu kambing untuk pengobatan seperti untuk asma dan tukak lambung,” ungkapnya.

 

Produksi Bibit Kambing

Terjun ke bisnis peternakan kambing di 2010 bagi Martinus Alexander bukan tanpa alasan. Peternak di Malang Jawa Timur ini sudah menargetkan ingin menjadi produsen pejantan unggul kambing boer yang bisa dimanfaatkan peternak konvensional maupun modern untuk dikawinkan dengan kambing betina lokal seperti kambing PE, senduro, atau kambing kacang. Hasil persilangannya diharapkan akan menjadi kambing pedaging yang unggul dengan harga yang terjangkau.

Baca Juga :  Pengusaha Ibu Rumah Tangga Ternak 75 Ekor Kambing HCS Tanpa Ngarit

Guna mewujudkan keinginannya itu, Ketua HPDKI Jawa Timur ini diawal memulai usaha mengimpor kambing boer murni dari Australia sebanyak 11 ekor pejantan dan 120 ekor betina. Sejak 2011 hasil produksi kambing persilangannya sudah mencapai F4 (keturunan ke-4) yang sudah lebih bagus genetiknya untuk menjadi pemacek. Tingkat karkas kambing boer persilangan ini sekitar 50-55 % dan masuk kelas premium karena lemaknya sedikit.

Menurut pria yang akrab disapa Alex ini permintaan bakalan kambing boer jantan hasil persilangan sekitar 500 ekor per bulan yang dipasok dari peternak mitra. “Peternak mitra memproduksi kambing boer persilangan lalu kami beli dan digemukan atau dititipkan ke orang lain yang membutuhkan calon indukan atau pejantan,” ujar peternak yang masih memiliki populasi kambing sekitar 250 ekor ini. Adapun pasar bibit kambing boer ini seperti untuk pengadaan di pemerintah dan peternak pembibitan di berbagai wilayah di Indonesia.

Alex berpendapat, sebagai pedaging, kambing boer memiliki keunggulan karena kenaikan berat badan hariannya bagus. “Kalau masyarakat ingin beternak kambing pedaging pakailah boer. Dari pengamatan saya, kalau kambing boer disilangkan dengan PE, senduro, atau kambing kacang hasilnya bagus,” sarannya.

Pelaku usaha pembibitan lainnya, Abdillah Anis, memilih fokus mengembangkan pembibitan ras kambing saanen dengan alasan ras ini belum populer dan belum banyak yang mengembangkan sehingga ketersediaan di pasaran belum banyak. Awalnya, pria yang akrab disapa Bib Dillahmendatangkan pejantan dari Jawa Barat dan sejak 3 tahun lalu mendatangkan dari bibit dari Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Baturraden. Kini pria yang mulai beternak di 2007 lalu ini memiliki populasi sekitar 200 ekor.

 

Baca Juga :  Budidaya Ternak Kroto Cepat Panen dan Cepat Bertelur

Pemilik Abdillah Goat Farm di Karang Anyar Jawa Tengah ini menyatakan, kambing saanen sebagai ras perah memiliki masa laktasi jauh lebih panjang sehingga produksi susunya lebih tinggi dibandingkan ras lain. Dari total populasi 200 ekor bisa mendapat susu sekitar 100 liter per hari. Produksi susu per ekor dalam masa laktasi dengan makanan yang bagus sekitar 2-3 liter per hari. Namun ia memilih masa laktasi kambing perah peliharaannya tidak dimaksimalkan sehingga produksi susu kambing yang  dijual sekitar 35-40 liter per hari. “Untuk menyiasati sulitnya pemasaran susu kambing, saya membuat cafe susu kambing. Juga membuat toko daging dan restoran aneka olahan berbahan baku daging domba dan kambing,” terang Ketua Aspekpin (Asosiasi Peternak Kambing Perah Indonesia) Jawa Tengah ini.

Sementara itu, Nizar Baasir, pembibit kambing di daerah Cilacap Jawa Tengah fokus melakukan penyilangan kambing perah sejak 2005. Di pelopori Bangun Dioro, peternak kambing perah di daerah Bogor Jawa Barat, Nizar pun melakukan persilangan antara kambing saanen (produksi susu tinggi tetapi rasa hambar) dengan kambing PE (rasa susu lezat tapi produktivitasnya rendah) yang menghasilkan keturunan dengan produktivitas lebih tinggi dan dikenal masyarakat sebagai kambing sapera. “Rekor tertinggi produksi kambing sapera bisa mencapai 8,5 liter per hari. Yang saya coba produksinya sekitar 5,5 liter per hari dan bertahan lama sekitar 1-1,5 bulan kalaupun turun masih bisa bertahan stabil 5 liter di puncak produksi. Setelah itu, produksi berkisar antara 2,5 – 3 liter per hari yang bertahan bisa sampai 4-5 bulan,” urainya./trb

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top
error: Content is protected !!