Pertanian

Hindari Toksik Pada Peptisida Waktu Cocok Tanam Di Musim Kemarau

Hindari Toksik Pada Peptisida Waktu Cocok Tanam  di musim kemarau . Sepertinya sekarang sudah mulai masuk musim kemarau. Dalam kondisi seperti itu, toksik pestisida sangat mungkin terjadi. Berikut beberapa hal yang perlu (atau tidak perlu) diperhatikan :

1. Hindari menyemprot pestisida dan/atau pupuk daun pada saat panas terik (jam e dikiro-kiro dewe) terutama sekali pada saat tanaman sedang berbunga dan mentil (bahasa indonesianya gak paham).
2. Hindari juga spray pada saat kelembababan tinggi dan cuaca terlalu dingin, misalnya sore hari sehabis hujan.
2. Hindari pestisida yg mengandung logam berat seperti dandang, panci, besi, dan pestisida berbasis logam (gampangnya: yang berakhiran -eb), juga unsur2 mikro.
3. Ada baiknya kalo menggunakan pestisida EC tidak perlu dicampur perata.
4. Hindari perata yang murahan.
5. Jangan melebihi dosis pada label kemasan pestisida.
6. Jika melakukan pengoplosan, ada baiknya gunakan maksimal 3/4 dosis dari masing2 pestisida oplosan.
7. Lebih bagus lagi, kalo punya sedikit tanaman sebagai tester utk melihat gejala phytotoxic. Spray, tunggu beberapa hari. kalo aman (tidak terjadi klorosis, nekrosis, dan gejala yg mencurigakan), spray yang laen.
8. Cucurbit biasane termasuk tanaman yg lebih sensitif.
8. Baca dan pelajari coretan2 pada label/kemasan pestisida. (sayangnya biasanya gak disebutkan keterangan fitotoksik nya)
9. Tolong ditambahi sendiri….

Baca Juga :  Cara Baru Mencangkok Tanaman Dengan Bahan Floral Foam

Gejala- gejala toksik Peptisida biasanya adalah :

1. Daun seperti terbakar dan terjadi nekrosis (biasanya di ujung daun, pinggir daun, bintik2 seperti terbakar pada permukaaan daun, juga dapat membakar tunas/pucuk)
2. klorosis (bisa berupa bintik ato bercak kekuningan pada daun)
3. Bentuk pucuk menjadi tidak sempurna (bisa curly, berkerut atau bentuknya tidak wajar (terkadang sulit dibedakan dg serangan pirus)
4. kerdil dan pertumbuhan tidak normal (efek dari pucuk/pupus yg tidak waras)
5. secara teori, fitotoksik juga bisa terjadi pada buah, iki bagiane kang Gesha karo Cak Nadi

Baca Juga :  Manfaat Beras Hitam, Bagi Kesehatan

Ada sedikit untuk membedakan antara gejala fitotoksik dengan gejala serangan pilus, bakteri atau jamur:

1. Biasanya fitotoksik terjadi pada 20% lebih dari total tanaman.
2. Gunakan raba/meraba dan elus mengelus: fitotoksik cenderung halus, jamur cenderung cekung, bakteri cenderung cembung.
3. Kalo tidak ada tanda2 insek penyebar pilus dan tanaman seperti terserang pilus, bisa jadi itu gejala fitotoksik
4. Bercak pada daun: pada2 gejala fitotoksik, bercak/bintik pada daun tidak ada “halo” (gak ngerti bahasa indonesianya yang pas, maksudnya semacam lingkaran di antara jaringan waras dengan jaringan yang rusak)
5. apabila tidak  menyebar, maka kemungkinan itu adalah gejala fitotoksik.
6. Pada tanaman lombok, gejala fitotoksik sering keliatan pada saat buah sudah habis dan tumbuh tunas muda./wahana tani

Baca Juga :  Proses Pembuatan Kompos Super
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top
error: Content is protected !!