Industri Agro

Pengembangan Bisnis Agro Hidroponik Skala Industri Ngetrend di Perkotaan

Pengembangan Hidroponik Skala Industri Jadi Alternatif pebisnis agro perkotaan. Kendala lahan yang sempit kini tak lagi jadi masalah oleh warga perkotaan untuk menyalurkan hobi bercocok tanam. Perkembangan trend budidaya hidroponik di kota besar yang semakin pesat, mendapat sambutan positif warga dan mereka mulai tertarik  mulai mempraktekkan teknik budidaya tanaman yang mengandalkan air dan nutrisi.

Tingginyua respon masyarakat untuk berkebun dengan teknik hidroponik, kini hidroponik tak hanya menjadi hobi tapi mulai dikembangkan sebagai lahan bisnis baru. Salah satunya saja seperti Bayu Widhi Nugroho (28) yang kini tengah asyik mengembangkan binis hidroponik skala industri.

Ditemui tim liputan bisnis ukm beberapa waktu yang lalu, pengusaha muda yang akrab dipanggil Bayu ini mengaku awalnya terjun di bisnis hidroponik karena hobi bercocok tanam. “Awalnya turun di bisnis hidroponik karena hobi menanam. Tapi bukan hidroponik awalnya, jadi kita menanam seperti biasa dengan media tanah di pot. Dari situ kita mulai browsing di internet dan kita kenal hidroponik, akhirnya mulai mencoba dan seiring berjalannya waktu kita menjalankannya sebagai ladang bisnis hidroponik skala industri,” ujar Bayu.

Ketua Komunitas Hidroponik Jogja (Hi-Jo) ini juga mengungkapkan bahwa dari sisi bisnis sebenarnya hidroponik hanya sebuah metode tanam, atau biasa disebut sebagai solusi atau pilihan media tanam. “Kebetulan Hidroponik inilah yang sesuai dengan saya, di lahan terbatas atau tidak punya lahan tapi bisa tetap menanam seperti orang yang memiliki sawah,” katanya sembari bergurau.

Baca Juga :  Dumping Tepung Terigu Impor Berbau Apek

Lebih Fokus Budidaya Sayur Mayur

Bayu menambahkan, besarnya minat masyarakat terhadap bisnis hidroponik juga dipicu oleh tingginya permintaan pasar di sekitar. Dari pengalamannya menjadi petani hidroponik, saat ini Ia hanya fokus produksi sedangkan untuk masalah pemasaran Ia tak perlu pusing memikirkannya karena semua hasil panen sudah diserap pasar tradisional dan sebagian lainnya disetor ke pengepul. “Kita belum mulai  main langsung ke hotel dan lebih fokus ke produksi,” imbuh Bayu.

Ketika ditanya mengenai fokus usahanya, selama ini dalam mengembangkan usahanya Bayu lebih tertarik untuk menanam sayuran. Baik itu sayuran daun maupun sayuran buah, contohnya seperti tanaman selada, kangkung, sawi, pakcoy, bayam, tomat, cabai, melon, dan lain sebagainya.

“Seperti yang saya bilang di awal tadi, sebenarnya secara keseluruhan hidroponik tidak jauh berbeda dengan sistem konvensional. Cuma disini kelebihannya kita bisa mengatur nutrisi untuk tanaman, dan masa panen bisa dipercepat, tergantung kita mengatur nutrisinya. Selain itu untuk jadwal tanam kita tidak terikat dengan musim. Entah itu musim penghujan atau kemarau, kita tetap bisa jalan produksi secara terus menerus,” terangnya.

Baca Juga :  Transfer Embrio, Generasi Baru untuk Peternak

Suka Duka Bisnis Hidroponik Skala Industri

Jika dibandingkan dengan sistem tanam konvensional, Bayu berujar perbedaan yang paling mencolok bisa dilihat dari jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. “Hidroponik membutuhkan tenaga kerja yang lebih sedikit daripada konvensional. Karena kita sistemnya sudah otomatis, jadi kita tidak perlu memeriksanya satu-satu, kita hanya tinggal mengawasi dari pusat kontrol saja,” jelas bayu.

Sedangkan untuk masalah hama, Bayu menjelaskan cara penanganannya tak jauh berbeda dengan sistem tanam konvensional, hidroponik ataupun organik. Serangan hama bisa diatasi sesuai dengan keinginan para pengusaha. Pilihannya diatasi murni tanpa pestisida atau tidak, jika ingin murni tanpa pestisida Bayu menyarankan harus pakai green house untuk mencegah datangnya hama. Tapi jika ingin menggunakan pestisida, petani bisa bercocok tanam tanpa green house namun resikonya hama banyak dan harus rajin menyemprotkan pestisida.

“Dari awal sudah kami niati tanpa pestisida, jadi kalau tanaman kena hama kita buang atau dipotong. Untuk media tanam, saran saya yang paling mudah dan paling murah pakai cocofeet. Cocofeet sendiri terbuat dari limbah sabut kelapa yang rontokannya kita jadikan sebagai media, atau bisa juga pakai arang sekam, jadi sekam yang sudah dibakar. Sedangkan untuk tanaman sayur daun, kita pakai roodwoll,” terangnya.

Baca Juga :  Aplikasi Media Internet Kini Jadi Sahabat Baru Petani Indonesia

Disamping ketiga kendala tersebut, Bayu juga menyampaikan bahwa untuk mengembangkan hidroponik skala industri dibutuhkan modal yang tak sedikit. Jika dibandingkan dengan sistem tanam konvensional, bisnis hidroponik memang membutuhkan modal usaha yang lebih besar.  Namun bila dikonfersikan, hasilnya sama saja.

“Untuk coba-coba skala rumah tangga, yang dibutuhkan cuma media tanam, benih, dan pupuk. Kalau itu tidak sampai Rp 100.000,- juga bisa. Namun untuk skala industry, modal yang dibutuhkan cukup besar,” jelasnya.

Dengan bertambahnya jumlah peminat hidroponik dari tahun ke tahun dimulai tahun 2014, kita sudah mulai edukasi prospek pasar dan akhirnya di tahun 2015-2016 sudah mulai berkembang pesat dan kemungkinan besar di tahun 2017 ini hidroponik bisa merata di luar Jawa terutama seperti di Kalimantan, Sumatera serta daerah lain dengan lahan-lahan sulit,” tambah Bayu./bisnisukm.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top
error: Content is protected !!