Peternakan

Transfer Embrio, Generasi Baru untuk Peternak

Informasi terbaru di dunia peternakan sebagaimana kelanjutan dari pengembanagan generasi lama Inseminasi Buatan (IB)  kini telah di kembangkan. Redaksi Agropedia Indonesia akan memberikan ulasan khusus tentang teknologi terbaru dalam dunia pertenakan moderen apakah itu ? Transfer Embrio atau bisa disingkat dengan (TE).

Transfer Embrio ,  yakni suatu teknik dimana embrio (fertilized ova) dikoleksi dari alat kelamin ternak betina menjelang ditransplantasikan ke dalam saluran reproduksi betina lain untuk melanjutkan kebuntingan hingga sempurna, seperti konsepsi, implantasi atau nidasi, dan kelahiran.

Teknologi ini merupakan generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah Inseminasi Buatan (IB) yang paling sering diterapkan pada ternak sapi. Teknologi Transfer Embrio memiliki kelebihan dibandingkan Inseminasi Buatan.

Transfer Embrio dapat dilakukan dengan teknik produksi embrio secara in vivo dan in vitro. Dalam teknik in vivo, hewan betina akan menerima donor dan menjalani superovulasi, yakni penyuntikan hormone gonadotropin (FSH, PMSG/CG atau HMG) guna melipatgandakan produksi sel telur. Sel-sel telur yang diovulasikan, setelah mengalami pembuahan, berkembang menjadi embrio dan ditampung atau dikoleksi, kemudian ditransfer pada betina resipien.

Baca Juga :  Penerapan Teknologi Untuk Agroindustri

Di samping ditransfer secara langsung, embrio dapat dibekukan atau di manipulasi guna menghasilkan kembar identik. Dimana embrio paruh yang dihasilkan dapat ditransfer atau sebagai bahan untuk menentukan jenis kelamin.

Sedangkan pada teknik in vitro, sumber sel telur umumnya berasal dari ovarium yang berasal dari hewan yang telah dipotong. Bahkan, dibeberapa negara maju limbah rumah potong hewan (RPH) digunakan untuk teknik in vitro. Hal tersebut, setelah melalui serangkaian teknik tertentu, dan ternyata secara komersial dapat menyediakan embrio bagi ternak potong.

Tahapan penggunaan Transfer Embrio, waktu lebih singkat, hanya memerlukan waktu satu generasi yaitu 9 bulan untuk menghasilkan bibit murni (pure breed) dengan melalui beberapa tahapan, yakni pemilihan sapi donor dan resipien, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, koleksi embrio, penanganan dan evaluasi embrio, transfer embrio ke resipien hingga pada pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran.

Baca Juga :  Desa Tangkil Kulon Menuju Sentra Agrobisnis Berbasis Lokal

Sementara, jika melalui proses Inseminasi Buatan (IB) dengan target yang sama memerlukan waktu 15 tahun. Dari Informasi yang di sampaikan kepada redaksi Agropedia Indonesia oleh Dinas Perternakan JATIM Transfer Embrio (TE) di Jawa Timur dilaksanakan sangat selektif pada lokasi-lokasi dengan pertimbangan khusus dan belum disiapkan secara masal, karena Transfer Embrio masih dalam pengembanagan, mengingat keberhasilan masih rendah. Dimana hasil Transfer Embrio hanya untuk kebutuhan breeding, dan belum sebagai ternak komersial maupun ternak potong.

Sedangkan mekanisme pelaksanaan aplikasi Transfer Embrio, dilakukan pada hari ke 6 sampai 8 setelah birahi, dengan persyaratan recipien sudah pernah beranak, performance tubuh baik dan sehat dengan BCS 2,7-3,4, recording reproduksi baik, siklus birahi baik, bebas dari penyakit menular, terseleksi setelah palpasi rektal dan berada dalam kawasan VBC dengan sistem monitoring yang intensif.

Kegiatan uji coba Transfer Embrio di Jawa Timur telah berhasil, dilaksanakan sejak tahun 2013 di Kabupaten Lamongan, Blitar, Tuban, Pasuruan. Situbondo, Nganjuk, dan UPT PT HMT Batu sebagai salah satu upaya untuk menyediakan bibit murni yang unggul.

Baca Juga :  Sukses Bisnis Modal Kecil Budidaya Ternak Belut

Para peternak sapi yang telah melaksanakan Transfer Embrio di Jawa Timur tersebut, sebagai bukti telah mendapatkan Surat Keterangan Ternak Bibit dari Balai Embrio Ternak Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Untuk diketahui, aplikasi bioteknologi Transfer Embrio dengan menggunakan embrio beku masih dalam taraf uji coba, dengan tingkat keberhasilan yang masih belum maksimal sekitar 20-30 persen. Mengingat faktor kesulitan yang cukup tinggi dan diperlukan petugas Transfer Embrio yang terampil dan profesional. [] Al

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler

To Top
error: Content is protected !!