Bisnis

Asing Incar Pabrik Rokok di Jatim

Asing Incar Pabrik Rokok di Jatim. Ketika pemerintah melakukan pengetatan industri yang berbasis tembakau melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109/2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan, banyak pihak asing yang mengincar untuk membeli  pabrik rokok di Indonesia.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Abdus Setiawan mengatakan, minat asing untuk membeli pabrik rokok kretek di Indonesia sangat besar. Bahkan, mereka berani membeli dengan harga mahal. “Ini terjadi karena tidak ada la-rangan asing untuk membeli saham pabrik rokok kretek di Indonesia. Bahkan, boleh sampai 100 persen,” kata Abdus ketika dihubungi Radar Surabaya kemarin (13/1). Apalagi, mereka tahu bahwa pasar rokok kretek di Indonesia sangat besar. Sebab, sekitar 90 persen perokok di Indonesia adalah konsumen rokok kretek, bukan rokok mild atau sigaret kretek mesin (SKM).

Berdasar data APTI, sekarang ada sekitar 1.250 pabrik rokok kretek kecil, sedang, dan besar di Indonesia. Sekitar 750 di antaranya berada di Jatim.Beberapa pabrik rokok kretek itu kini didekati utusan dari perusahaan rokok di luar negeri untuk negosiasi pembelian. Di antara pabrik rokok kretek yang sudah dibeli itu adalah PT Trisakti Purwosari Makmur (TPM). Sekitar 60 persen saham produsen rokok asal Pasuruan tersebut telah dibeli oleh perusahaan rokok asal Korea Selatan, KT & G.

Nilai pembelian itu setara dengan 140 miliar won atau setara dengan Rp 1,12 triliun. Trisakti Group adalah perusahaan rokok yang didirikan pada 1 Maret 1974 di Purwosari, Pasuruan. Produk pertama yang diproduksi adalah sigaret kretek tangan (SKT) dengan merek Apokat dan Kacang Bayi.

Kini PT TPM memproduksi sejumlah merek rokok. Di antaranya, Master Mild, Win Mild, Lintang Enam, Bheta, dan Pensil Mas International. Produksinya mencapai lebih dari 3 miliar batang. TPM termasuk perusahaan rokok kretek terbesar keenam di Indonesia. Menurut Abdus, pembelian pabrik rokok di Indonesia oleh pihak asing adalah tindakan yang wajar. Sebab, Indonesia, khususnya Jawa Timur merupakan produsen sekaligus konsumen rokok kretek terbesar di dunia. Dengan diberlakukannya pasar bersama, seperti ASEAN Tiongkok dan ASEAN Economic Community (AEC) pada 1 Januari 2015, pasar semakin luas. Peluang itulah yang diincar investor asing. (za/c1/jay)radarsby/cp.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!