Ekonomi

Berdaulat Di Bidang Pangan Atau Tunduk Di Bawah Negara Pemasok Pangan

Momentum peringatan Hari Tani Nasional ke 62 tahun, pada tanggal 24 September. Mengingatkan kita semua bahwa, sejak disahkannya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA Nomor 5 Tahun 1960) masyarakat berharap agar UUPA segera di terapkan.

Kurun waktu dua periode, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dinilai gagal melaksanakan Reforma Agraria. Nasib Marhaen serta para petani Indonesia pada momentum peringatan hari tani nasional, masih belum menemukan titik terang. Harapan Implementasi UUPA masih menjadi doanya disetiap pergantian pemerintah pemerintahan.

Sampai saat ini, para petani kita masih kekurangan tanah garapan. Rata-rata para petani Indonesia hanya memiliki lahan 0,3 hektare. Padahal idealnya, kepemilikan lahan minimal 2 hektare.

Terjadinya alih fungsi lahan produktif, (lahan usaha tani) menjadikan lahan garapan menyusut. Indonesia kehilangan 5,07 juta rumah tangga usaha petani dalam kurun waktu sepuluh tahun terahir.

Upaya pemerintah mengesahkan Undang-Undang No 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, dengan memberikan jaminan kesejahteraan kepada petani sampai sekarang belum dirasakan dampaknya, Janji pemerintah untuk tambahan 2 hektare lahan untuk petani guram, selama ini justru dimonopoli para investor. Lantas sampaikapan nasip petani sebagai kamu marhaen dipermainkan.

Kita semua bisa membandingkan jika bangsa-bangsa yang hidup dipadang pasir yang kering dan tandus bisa memecahkan persoalan ekonominya kenapa kita tidak. Kekayaan alam kita yang sudah digali dan yang belum digali, begitu melimpah.

Rakyat indonesia sangat rajin, serta memiliki ketrampilan yang sangat besar, Ini diakui oleh semua orang diluar negeri. Jati diri rakyat yang memiliki jiwa Gotong-royong, dapat menjadi dasar untuk mengumpulkan Funds and forces.

Ambisi daya cipta Bangsa Indonesia sangat tinggi dibidang politik tinggi, dibidang sosial tinggi, dibidang kebudayaan tinggi, tentunya juga di bidang ekonomi dean perdagangan.

Sesungguhnya tradisi Bangsa lndonesia bukan tradisi, “tempe”. Kita dizaman purba pernah menguasai perdagangan di seluruh Asia Tenggara, pernah mengarungi lautan untuk berdagang sampai ke Arabia atau Afrika atau Tiongkok. Untuk itu kita harus segra bangkit dari kondisi keterpurukan ini.

Melalui Reforma agraria Indonesia akan mampu bersaing dan dapat mensejah terahkan masyarakatnya. Namun pilihan itu kini ada di tangan pemerintahan presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pilihan, berdaulat di bidang pangan atau tunduk di bawah kendali negara-negara pemasok pangan.

M. Ali Shodikin SHI. MH. (Ketua KORDA GMNI JATIM 2014-2016)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!