close
Bisnis

Branding Produk Bisnis

Brand BisnisBranding Produk Bisnis sangat diperlukan dalam bisnis apapun. Selama ini banyak pemasar yang selalu mengidentikkan branding hanya dengan industri B2C (Business to Consumer) saja. Pemasar aliran ini beranggapan bahwa hanya konsumen individu (pelanggan akhir) saja yang dapat menggunakan unsur non rasional (atau unsur emosional) dalam menentukan merek yang akan dibeli.
Kelompok ini menganggap bahwa konsumen (perusahaan) di industri B2B adalah sebuah kelompok bisnis yang selalu menggunakan perhitungan rasional (untung rugi) dalam menentukan merek yang akan dibeli.
Bob Lamons mematahkan semua anggapan tersebut dengan berbagai contoh konkrit tentang B2B branding seperti Caterpillar, IBM, Intel, SAS Institute dan UPS. Lamons menunjukkan bagaimana praktek branding dapat meningkatkan keunggulan bersaing mereka.
Melalui penelitian intensif terhadap berbagai keberhasilan bisnis B2B dalam melakukan branding, Lamons memberikan rahasia 7 tips sederhana bagi para pelaku bisnis B2B untuk meningkatkan nilai jual mereknya.
Pertama, branding the people. Faktor utama yang membedakan branding di industri B2C dan B2B adalah kuatnya peranan sumber daya manusia. Jika ingin berhasil dengan baik, maka semua jajaran karyawan harus dapat mengimplementasikan brand promise. Disinilah pentingnya program internal branding yang dapat menciptakan one brand one promise one voice one behavior!
Kedua, brand architecture. Seringkali pebisnis B2B mengabaikan arsitektur merek yang mereka kembangkan.Bukankah keberhasilan dan kegagalan salah satu merek akan mempengaruhi merek lainnya dalam perusahaan? Masing-masing merek harus di-tata dalam satu arsitektur merek yang sinergis sehingga tidak merusak citra merek yang sudah terlanjur dijanjikan.
Ketiga, audience identification. Employees come first, customers are next! Audiens yang paling penting adalah karyawan, mereka lebih berharga daripada pelanggan, jika karyawan tidak meyakini perusahaannya dengan sungguh-sungguh tentu saja tidak akan membuahkan hasil apa pun.
Setelah itu barulah mengidentifikasi pelanggan kita. Lamons menawarkan tips untuk menganalisa pelanggan B2B berdasarkan 10 kriteria yaitu decision making power, sales potential, growth potential, lifetime value, retention potential, common motivations, problem potential, responsiveness, media exposure patterns and media costs dan findability.
Keempat, brand positioning. Merek B2B juga harus diposisikan secara unik di benak karyawan dan pelanggan. Perusahaan harus dapat meyakinkan karyawan akan keunikan produk atau jasa B2B yang mereka tawarkan, barulah mencoba meyakinkan pelanggan.
Kelima, brand personality. Positioning yang ingin diciptakan akan menjadi percuma jika dalam praktek sehari harinya karyawan tidak memiliki personality yang sesuai dengan brand promise-nya. Dengan tingkat keterlibatan karyawan yang tinggi, kepribadian, sikap dan perilaku mereka akan mempengaruhi citra merek yang dijual.
Keenam, consistent execution. Positioning dan personality yang unik akan menjadi percuma tanpa sebuah eksekusi yang konsisten. Banyak sekali merek B2B yang cuma bagus di awal-awal perjalanan bisnisnya. Seiring dengan perjalanan waktu, eksekusinya justru sering bertentangan dengan janjinya terdahulu.
Ketujuh, evaluasi dan ukur brand equity secara berkala. Mempertahankan jauh lebih sulit dari merebut. Untuk itu diperlukan proses evaluasi secara berkala untuk mengetahui sejauh mana sebuah merek B2B memiliki nilai jual tinggi di mata pelanggan dan atau calon pelanggan. Brand equity yang tinggi akan menjadi “pelicin” untuk memenangkan perang di industri

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

pakan ternak, mesin pelet, mesin pertanian, peternakan, saham agro, jual benih biji buah, wisata agro, mesin pertukangan, mesin alat bangunan

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!