Perkebunan

Buah Jamaika dikenal Sebagai Jambu Bol Jumbo Manis Berbobot 500 g

Yang gendut yang dinanti sejak kemunculan perdananya, buah jamaika dikenal sebagai jambu bol jumbo yang manis. Namun sosoknya yang jumbo kini jarang terlihat di gerai pasar swalayan atau took buah. Di sana bobotnya hanya 200 g padahal bobot buah ini bisa mencapai 500 g. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan ke mana perginya sosok sejati jamaika.

Syzygium malaccense, nama ilmiah jamaika, umumnya berbobot 300-400 g, bahkan ada juga yang berbobot 500 g. Mengapa kini sosoknya yang jumbo menghilang? Ada beberapa faktor yang meyebabkan mungilnya jamaika, salah satunya adalah kurangnya ketersediaan hasil fotosintesis, hara, dan ruang tumbuh.

Banyak diantara pekebun jamaika yang enggan menjarangkan buah. Bagi mereka itu tak perlu dilakukan karena pada umumnya buah jamaika mudah rontok secara alami. Hal itulah yang menyebabkan produktivitas jamaika rendah. Sehingga mereka beranggapan sayang jika penjarangan dilakukan. Hanya 30% hasil panen yang layak jual, itupun berbobot 200-250 g per buah, tak jarang juga bentuknya abnormal.

 

Seleksi Buah Jambu Jamaika

Di Ngembal, produktivitas jambu jamaika tinggi, berbeda dengan para pekebun lainnya. Bisa dikatakan di Ngembal pekebun sukses merawat jamaika. Di saat para pekebun lainnya mengabaikan penjarangan, bagi pekebun Ngembal malah sangat memperhatikan proses penjarangan. Buah seukuran jari kelingking langsung mereka seleksi.

Para pekebun cekatan merompes ratusan buah pentil yang baru saja muncul. Hanya buah pentil yang bentuknya normal dan posisinya tak berhimpitan dengan yang lainlah yang bertahan. Satu dompol biasanya berisi 6-10 buah hanya disisakan 2-3 buah yang lolos seleksi.

Selain bentuk buah, ukuran cabang juga menjadi salah satu faktor dalam menentukan penjarangan. Cabang seukuran lengan orang dewasa dengan panjang 1.5 – 2 m hanya diberikan beban 8 dompol yang ditopang 4 atau 5 ranting. Cabang yang lebih kecil dipercayai menopang 3-5 dompol. Pilihan terbaik adalah dompolan yang dekat dengan batang karena ukuran cabang di pangkal lebih besar ketimbang di ujung. Semakin dengan dengan batang, semakin besar jumlah nutrisi yang mengalir.

Tak hanya saja, jarak antardompolan pun perlu diperhatikan. Jarak antar dompolan diatur minimal sejengkal, sehingga tak berdesakkan. Pengaturan jarak antar dompolan bertujuan untuk menyediakan ruang tumbuh bagi perkembangan buah. Tersedianya ruang tumbuh dapat mengurangi resiko kerontokan buah.

Penjarangan yang dilakukan pekebun Ngembal dipuji oleh Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT), baginya teknik ini menghasilkan ketersedianya hasil fotosintesis, hara, dan ruang tumbuh yang memadai untuk membuat ukuran buah optimal sesuai dengan karakter genetik aslinya.

 

Pupuk Intensif Untuk Jambu Jamaika

Asupan nutrisi harus tetap menyertai penjarangan agar hasil fotosintesis dan hara tersedia maksimal. Setiap tahun, 25 kg pupuk kotoran sapi hasil fermentasi ditabur di sekitar perakaran tanaman berumur 6 tahun, kemudian ditutup daun kering. Setiap 3 bulannya, dibenamkan 1 kg NPK 15-15-15.

Pascabunga mekar, diberikan pemupukan ekstra. Setiap pohon dijatah 330 g NPK dan 330 g pupuk ZK. Kegiatan itu diulangi pada minggu ke-4 dan minggu ke-7. Pemberian pupuk ZK bertujuan sebagau sumber kalium yang menunjang perkembangan buah supaya manis dan tak mudah rontok.

Kerontokan buah berkurang dengan adanya asupan kalsium (Ca) asal dolomit yang ditebar setiap awal dan akhir musim hujan. Dolomit berperan dalam meningkatkan pH tanah yang asam, sekaligus menyuplai ca sebagai penguat jaringan absisi-jaringan sekat-pada tangkai buah. Kelebihan dolomit lainnya adalah mengandung magnesium yang berperan memaniskan buah.

 

Pembungkusan Jambu Jamaika

Teknik penyelamatan terakhir yang dilakukan adalah pembungkusan. Sebagian besar kerontokan jamaika merupakan ulah lalat buah yang menyebabkan buah menjadi busuk dan rontok. Pembungkusan berperan penting dalam mencegah serangan lalat buah. Tingkat serangan lalat buah pada musim kemarau hanya 12-20%, sedangkan 90% pada musim hujan. Selain mencegah serangan lalat buah, pembukusan juga dapat mengurangi kerontokan pada musim hujan.

Bahan yang dipilih untuk membungkus jamaika adalah pembungkus kasa untuk musim kemarau. Pada musim hujan ditambahkan pembungkus plastik. Lapisan kasa berada di dalam, sedangkan plastik ada di luar untuk mencegah masuknya air hujan. Bagian pojok bawah platik diberi lubang kecil agar air hujan yang masuk bisa keluar. Setelah dijarangkan, buah harus segera dibungkus.

Dengan 3 teknik di atas, hasil panen dapat mencapai 25 kg jamaika per pohon dan sosoknya yang jumbo telah kembali dalam keadaan manis. Pekebun Ngembal membuktikannya dengan hasil panen 2.6 ton dari 105 pohon yang berumur 6 tahun pada musim panen Januari – Februari. Hasil ini menjadi 2 kali lipat ketika musim kemarau, karena kelembaban rendah mengakibatkan kerontokan kurang dari 10%.

 

Jurus Ngembal Jamaika

  1. Penjarangan dilakukan sebagian besar buah berukuran seujung jari kelingking.
  2. Pada cabang sebesar lengan orang dewasa dengan panjang 1.5 – 2 m dipertahankan 8 dompol pada 4 atau 5 ranting. Dalam 1 dompol dipertahankan 2 – 3 buah.
  3. Pembungkusan tiap dompol. Pada musim kemarau dibungkus dengan kasa, pada musim hujan dibungkus dengan kasa dan plastik.

 

Demikian dahulu tentang Buah Jamaika dikenal Sebagai Jambu Bol Jumbo Manis Berbobot 500 g, selamat mencoba sampai panen. Salama sukses

Tag:

Terpopuler

close

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!