Sapi

Ciri-Ciri Bakalan Sapi Pedaging Berkualitas Berdasarkan Jenis, Umur dan Ciri Fisiknya

Bakalan sapi pedaging yang berkualitas adalah persyaratan mutlak saat memulai usaha penggemukan sapi potong. Bakalan  sapi pedaging untuk penggemukan seharusnya dari jenis sapi pedaging, baik dari daerah setempat maupun berasal dari luar kota. Keuntungan dari bisnis penggemukan sapi pedaging, bukan hanya ditentukan saat pemeliharaan dan saat menjual, tetapi dimulai saat beli. Maka gunakan filosofi, “Telitilah Sebelum Membeli”.

Berikut merupakan ciri , jenis, umur dan ciri fisik Sapi Pedaging berkualitas :

Jenis dan Kualitas Sapi Pedaging

Bakalan  sapi pedaging untuk penggemukan sebaiknya memang berasal dari jenis sapi pedaging, baik yang berada di daerah setempat maupun berasal dari luar wilayah. Sapi bakalan yang berkualitas bisa berupa sapi berdarah murni (sapi Bali), sapi Madura, atau sapi hasil persilangan (Simmental, Limousin, Brahman jantan dengan PO betina dll).
Jika menggunakan bakalan sapi hasil persilangan, sebaiknya memilih bakalan yang fisiknya lebih menyerupai induk jantannya. Misalnya, jika menggunakan bakalan hasil persilangan sapi Simmental atau sapi Limousin jantan atau Brahman jantan dengan sapi Peranakan Ongole (PO) betina atau sapi FH betina, maka sapi bakalan yang digunakan sebaiknya memiliki fisik dominan sapi Simmental atau sapi Limousin.

Namun sapi bakalan berkualitas saja tidak cukup. Penggemukan sapi pedaging, sapi bakalan berkualitas harus ditunjang dengan pakan berkualitas agar avery daily gain (ADG), pertambahan bobot badan harian rata-rata sapi yang dihasilkan sesuai target. Seperti yang diketahui dalam artikel sebelumnya, pertumbuahan bobot harian sapi Limousin atau sapi Simmental atau sapi Brahman, bisa mencapai >1,5 kg/ekor/hari, jika pakan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, baik kualitas dan kuantitasnya dan dengan manajemen pemeliharaan yang baik dan benar.

Kaki Sapi Pedaging

Sesungguhnya, “jantung”-nya sapi itu bukan jantung yang di dalam dada, tetapi berada di ujung-ujung kuku dan kakinya. Jadi sebelum menilai body condition score (BCS) sapi, pastikan dulu bahwa kaki dan kukunya sehat, kokoh dan posturnya normal. Baik kaki dan kuku depan mau pun yang belakang. Kalau kaki dan kukunya tidak memenuhi syarat, tidak usah dibeli.

Umur Sapi Pedaging

Idealnya, umur bakalan sapi untuk usaha penggemukan sapi pedaging sekira 1,5 – 3,0 tahun (18–36 bulan). Kisaran umur tersebut merupakan umur paling optimal untuk memulai usaha penggemukan karena pertumbuhannya masih cepat. Umur bakalan sapi yang kurang dari 1,5 tahun pertumbuhan bobot badan hariannya memang cepat tetapi persentase karkasnya belum optimal karena anatominya masih belum mentok. Sebaliknya, sapi yang umurnya >4 tahun, perkembangannya sudah melanbat lambat.

Masih jarangnya peternak, terutama peternak rakyat, yang membuat catatan kelahiran sapi mengakibatkan munculnya kendala untuk mengetahui umur bakalan sapi. Padahal, pencatatan tanggal lahir merupakan cara yang paling akurat dalam menentukan umur bakalan sapi.

Gigi Sapi Pedaging

Umumnya, untuk mengatasi masalah umur sapi, peternak melakukan dengan metode lain, yaitu melihat kondisi gigi. Pilih lah sapi yang giginya sudah pernah tanggal (Jawa : po’el) minimum 2 (dua) gigi seri dan sudah tumbuh lagi. Proses po’el-nya sudah selesai. Sebab, sapi yang masih dalam proses lepas gigi seri (bahasa Jawa : po’el), napsu makannya berkurang karena giginya masih terasa sakit.

Kondisi Fisik Bakalan Sapi (Body Condition Score = BCS)

Selain umur, bakalan sapiseharusnya punya kondisi fisik yang sangat baik, yakni terlihat sehat, segar, aktif, tidak lesu, dan pertumbuhan normal (tidak cacat). Sapi bakalan yang sehat dan normal tentunya dapat mengoptimalkan program penggemukan sehingga hasilnya maksimal.

Berikut adalah ciri fisik bakalan sapi yang berkualitas :

1. Badan kompak (proposional). Rangka tubuh tampak kokoh dan lebar (tidak gepeng);

2. Tubuh panjang dengan tinggi tubuh bagian depan dan belakang relatif sama;

3. Dada lebar, bakalan sapi yang baik umumnya memiliki dada yang lebar (tidak sempit) sehingga pertambahan daging selama penggemukan di bagian ini cukup banyak atau maksimal;

4. Bulu pendek dan kering dan mata bersinar dan responsif terhadap lingkungan;

5. Perut kecil, tetapi pantat lebar. Bakalan sapi dengan perut besar (buncit) mengidentifikasi terserang cacingan. Selain itu, perut bakalan sapi yang terlalu besar biasanya juga memengaruhi jumlah karkas yang dihasilkan karena kosentrasi pertambahan bobotnya banyak terserap ke perut sehingga mengurangi pertambahan daging ke bagian lain, seperti dada, paha, atau pantat;

6. Kaki kokoh dengan tulang kaki besar. Kaki yang kokoh sangat penting untuk menopang bobot seiring pertambahan bobot;

7. Bentuk kaki normal dan lurus, sejajar, tidak membentuk X atau O

8. Tidak terlalu kurus dan gemuk.

Fisik bakalan sapi yang terlalu kurus umumnya makan waktu lebih lama untuk digemukkan. Selain pada itu, bakalan sapi yang terlalu kurus dimungkinan dijangkiti penyakit seperi cacingan atau pernah memakan sesuatu yang tidak seharusnya, seperti plastik, tali rafia atau karet. Sebaliknya, bakalan yang terlalu gemuk juga kurang ideal untuk digemukkan karena pertambahan bobot hariannya tidak sebanyak bakalan sapi yang badannya ideal.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler

close

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!