Ekonomi

Jawaban Rachmat Gobel, Kenaikan Harga Cabai

Harga komoditas kebutuhan pangan di indonesia mengalami peningkatan. Salah satunya termasuk cabai jenis rawit merah.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel tidak ingin buru-buru membuka keran impor meski harga cabai melambung tinggi. Salah satu alasannya, beberapa wilayah di Indonesia mulai memasuki musim panen cabai.

Pantauan di Pasar Puspa Agro Sidoarjo, harga beragam jenis cabai telah mengalami kenaikan sejak empat hari lebih. Selain cabai rawit merah besar, harga cabai rawit kecil juga melonjak menjadi Rp 95 ribu per kg dari Rp 60 ribu per kg.

Begitu juga dengan cabai merah besar, kini dijual seharga Rp 70 ribu per kg. Tak hanya itu, cabai hijau besar, cabai keriting hijau juga mengalami kenaikan. Harga komoditi lainnya yaitu harga sayur-mayur seperti tomat, kentang, wortel, kol, dan sawi juga ikut merangkak naik.

Pantauan di Pasar Keputran surabaya, harga tomat saat ini mencapai Rp 10 ribu per kg, begitu juga kentang yang biasanya dijual Rp 8.000 per kg, kini naik jadi Rp 14 ribu per kg. Harga kacang panjang mengalami kenaikan Rp 10 ribu menjadi Rp 30 ribu per kg.

Wortel yang biasanya Rp 8.000 untuk kualitas rendah kini dibanderol Rp 14.500 per kg dengan kualitas yang sama. Demikian pula,  kol dan sawi yang tadinya Rp 6.000 per kg, menjadi Rp 9.000 per kg.

Salah satu pedagang sayur di Pasar Mangga Dua Surabaya, Sofyan mengatakan, kenaikan harga didominasi oleh komoditas sayur-sayuran. Hal ini dikarenakan pasokan terganggu akibat hujan dan cuaca yang tidak menentu di wilayah produksinya.

“Pasokan kurang, bikin harga jual di pasar Induk mengalami kenaikan , hujan terus-menerus selama hampir satu bulan ini menyebabkan stok terganggu, ditambah pasokan sayur dan cabai cepat membusuk di musim penghujan,” ujarnya, Minggu (21/12/2014).

Kenaikan harga ini juga membuat aktivitas di pasar naik-turun dan dikeluhkan sejumlah pedagang harus mengeluarkan modal yang besar untuk membeli barang. Sementara,konsumen terbebankan dengan tingginya harga barang.

Mendag memilih memprioritaskan pasokan cabai lokal untuk menekan harga. Daerah yang mengalami surplus, pasokannya dialihkan ke daerah yang kekurangan pasokan. Dengan memaksimalkan cabai lokal, petani juga bakal memperoleh keuntungan.

“Tidak ada keputusan impor, karena kita cukup memberikan dorongan kepada petani-petani cabai itu untuk untung. Karena tahun lalu kan mereka nggak untung ya. Jadi dengan adanya ini, memberikan optimisme kepada para petani agar petani mau terus menanamkan cabainya,” ucapnya. (alsho/ak)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler

close

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!