close
Burung Puyuh

Kecernaan Nutrien dan Performan Puyuh Jantan yang Diberi Ampas Tahu Fermentasi dalam Ransum

Puyuh jantan merupakan jenis unggas yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai penghasil protein hewani karena mudah dipelihara, biaya pemeliharaan tidak terlalu besar serta dapat diusahakan pada lahan yang tidak terlalu luas Nasution (2007) menyatakan bahwa faktor yang terpenting dalam pemeliharaan puyuh adalah pakan. Hal ini dikarenakan 80% biaya yang dikeluarkan peternak digunakan untuk pembelian pakan. Untuk itu diusahakan pemanfaatan bahan pakan lain yang harganya relatif murah, mudah mendapatkannya dan tidak berbahaya bagi ternak. Salah satu jenis pakan alternatif yaitu dengan menggunakan ampas tahu.

Ampas Tahu Sebagai Alternatif Pakan Burung Puyuh

Ampas tahu memiliki kelemahan sebagai bahan pakan yaitu kandungan serat kasar (SK) yang tinggi, sehingga penggunaannya sebagai bahan pakan unggas harus dibatasi karena sulit dicerna oleh ternak unggas. Menurut Mahfudz (2006) salah satu cara untuk mengurangi kandungan SK tersebut adalah diproses dengan fermentasi.

Penelitian Mahfudz (2006) menunjukkan adanya peningkatan nilai kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan protein kasar (KcPK) dan bobot potong pada ayam pedaging dengan penambahan ATF sampai taraf 15%. Hal ini dikarenakan ayam masih mentoleransi SK hingga 6,71%. Selain itu menurut Mahfudz (2006a) proses fermentasi akan meningkatkan konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan (PBB) karena hasil fermentasi menghasilkan asam glutamat yang dapat meningkatkan nafsu makan serta mampu mendukung pertumbuhan dari ayam pedaging. Namun, penggunaan ATF sampai taraf 20% menurunkan efisiensi penggunaan ransum ayam pedaging.

Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Mahfudz (2006b) menunjukan bahwa pemberian ATF sampai dengan taraf 15% belum berpengaruh terhadap rasio efisiensi protein (REP) itik Tegal jantan. Hal ini membuktikan bahwa setiap jenis unggas memiliki kemampuan yang berbeda dalam mentoleransi kandungan SK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecernaan nutrien dan performan puyuh jantan yang diberi ATF dalam ransum dengan mengukur konsumsi ransum, KcBK, KcPK, pertambahan bobot badan harian (PBBH), konversi ransum dan REP.

Pertumbuhan Burung Puyuh Metode Ransum

Materi yang digunakan adalah puyuh jantan umur 1 hari (day old quail / DOQ) sebanyak 400 ekor dengan bobot badan awal perlakuan 12,75 + 1,27 gram (cv = 9,97%).

Kandang yang digunakan adalah kandang baterai berukuran 90 x 45 x 25 cm, berjumlah 20 petak, yang diisi dengan 20 ekor puyuh pada setiap petaknya. Ransum yang digunakan dalam penelitian disajikan pada Tabel 1.

Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, masing–masing perlakuan diulang 5 kali dan setiap ulangan terdiri dari 20 ekor puyuh. Adapun perlakuannya adalah sebagai berikut : P0% = ransum basal 100%, P5% = ransum basal 95% + ATF 5%, P10% = ransum basal 90% + ATF 10% dan P15% = ransum basal 85% + ATF 15%.

Metode Penelitian dilaksanakan melalui tiga periode. Periode pertama merupakan persiapan, periode kedua adalah adaptasi dan periode ketiga adalah perlakuan. Periode persiapan meliputi persiapan kandang, pembuatan ransum basal dan pembuatan ATF. Persiapan kandang dilakukan dengan membersihkan dan desinfeksi kandang dengan tujuan menjaga kebersihan kandang dan memutus perkembangan mikrobia. Pembuatan ransum basal selama di kandang brooder dilakukan satu kali sesuai dengan kebutuhannya.

Pembuatan ATF dilakukan berdasarkan metode Mahfudz (2006) dengan cara menekan ampas tahu segar untuk mengurangi kadar airnya, kemudian ampas tahu dikukus selama satu jam dan didinginkan hingga mencapai suhu kamar (27 oC) dengan cara diangin-anginkan selama 45 menit. Ampas tahu yang sudah didinginkan kemudian diinokulasi dengan Rhizopus oligosporus dan pembuatan tepung ATF dimulai dengan mengiris ATF, dijemur, kemudian dihaluskan. Kandungan nutrien ATF disajikan pada Tabel 2. Periode kedua dimulai dengan menimbang bobot awal puyuh, kemudian dimasukkan ke dalam kandang brooder pada umur 1-7 hari dengan tujuan agar puyuh

tidak stress dan mendapat kehangatan yang merata. Pada saat DOQ berada di brooder diberikan ransum basal dan minum secara ad libitum. Periode ketiga dimulai dari hari ke-8 sampai dengan hari ke-42. Ransum diberikan dua kali sehari pada pukul 07.00 dan 16.00 WIB. Air minum diberikan secara ad libitum. Pada periode ini dilakukan pengambilan data konsumsi ransum setiap hari. Penimbangan bobot badan untuk mengukur PBBH dilakukan setiap minggunya. Tahap kecernaan in vivo dilakukan pada saat puyuh berumur 43 hari. Sebanyak dua ekor setiap satuan percobaan dipilih secara acak dan ditempatkan pada kandang individu. Pengujian kecernaan dilakukan dengan menggunakan motode total koleksi sesuai dengan prosedur dari El-Husseiny et al (2007). Skema pengujian kecernaan in vivo dapat dilihat pada Gambar 1. Selama periode total koleksi dilakukan pengukuran konsumsi ransum dan penimbangan ekskreta setiap hari. Ekskreta ditampung dengan menggunakan nampan yang dipasang di bagian bawah kandang puyuh. Nampan diganti setiap hari. Setiap tiga jam ekskreta disemprot dengan menggunakan HCl 0,2 N. Sampel ekskreta

segar ditimbang kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari untuk mengetahui berat kering udara. Penampungan ekskreta dilakukan selama empat hari. Ekskreta yang telah kering diambil sampelnya secara komposit selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui kadar BK dengan cara pengovenan dan kadar protein dengan menggunakan metode Kjeldhal (Sudarmadji et al., 1996). Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah Konsumsi ransum (gram/ekor/hari) (Nasution, 2007), Kecernaan BK (%) (Mulyono et al., 2009), Kecernaan Protein (%) (Mulyono et al., 2009), Pertambahan bobot badan harian (gram/ekor/hari) (Setiyantari, 2003), Konversi ransum (Tubagus, 2008), Rasio efisiensi protein (REP) (Iqbal et al., 2012). Analisis Statistik Semua data yang diperoleh dalam penelitian ini terlebih dahulu diuji homogenitas dan normalitasnya (Sudjana, 1996). Selanjutnya data dianalisis variansi dengan taraf 5% untuk mengetahui adanya pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati. Apabila hasil analisis variansi menunjukkan pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan (Yitnosumarto, 1993).

Hasil penelitian Konsumsi Ransum Pada Puyuh

Konsumsi Ransum Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ATF sampai taraf 15% dalam ransum tidak menyebabkan terjadinya penurunan konsumsi ransum (P>0,05).

Konsumsi ransum yang tidak berbeda (Tabel 3) disebabkan kandungan energi dalam ransum pada setiap perlakuan relatif sama. Sesuai dengan pernyataan Nuraini (2009), Sagala (2009) dan Zahra et al. (2012) bahwa kesetaraan tingkat energi pada ransum menyebabkan jumlah ransum yang dikonsumsi pada setiap perlakuan relatif sama. Wahju (2004) menambahkan bahwa pada hakekatnya ternak mengonsumsi ransum untuk memenuhi kebutuhan energi dalam tubuh. Menurut Nuraini dan Ade (2006), Nuraini (2009), Nuraini et al. (2012a) dan Nuraini et al. (2012b) konsumsi ransum juga dipengaruhi oleh palatabilitas ransum.

Penggunaan ATF sampai taraf 15% memberikan aroma, rasa dan bentuk yang tidak jauh berbeda dengan ransum basal. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ATF sampai taraf 15% dalam ransum tidak menurunkan palatabilitas ransum. Hasil penelitian Tanwiriah et al. (2006) pemberian ampas tahu dalam ransum sampai taraf 30% tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum pada entok. Hasil yang sama juga dikemukakan Mahfudz (2006b) bahwa penggunaan ATF sampai taraf 15% tidak berpengaruh terhadap konsumsi ransum itik Tegal jantan. Kecernaan Bahan Kering Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ATF dalam ransum tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) pada KcBK (Tabel 3). Tidak adanya perbedaan nilai KcBK disebabkan karena kandungan nutrien pada ATF mampu memenuhi kebutuhan nutrien puyuh jantan tanpa

mengurangi nilai KcBK meskipun terdapat pengurangan ransum sebesar 15% dari ransum basal. Nilai KcBK yang relatif sama menunjukkan bahwa penambahan ATF sampai taraf 15% mampu memberikan pengaruh yang sama baiknya dengan ransum basal. Bahan pakan yang telah difermentasi akan mengalami peningkatan kualitas dari bahan bakunya dibandingkan dengan bahan pakan tanpa proses fermentasi (Mahfudz et al., 2004 dan Mahfudz, 2006a). Tanwiriah et al. (2006) menambahkan bahwa ransum yang memiliki kandungan nutrien yang cukup biasanya mempunyai daya cerna yang baik apabila tidak ada faktor pembatas dalam ransum seperti racun, sehingga akan menunjang pertumbuhan ternak. Kecernaan Protein Kasar Penggunaan ATF sampai taraf 15% dalam ransum tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) pada KcPK (Tabel 3). Tidak adanya pengaruh nyata pada KcPK disebabkan karena kandungan protein pada ransum perlakuan relatif sama sehingga nilai rataan KcPK juga relatif sama. Ransum yang memiliki kandungan protein rendah menyebabkan nilai kecernaan protein yang rendah pula demikian sebaliknya (Wahju, 2004; Maghfiroh et al., 2012 dan Prawitasari et al., 2012). Tillman et al. (1982) menambahkan bahwa tinggi rendahnya kecernaan protein dipengaruhi oleh kandungan protein dalam bahan penyusun ransum dan banyaknya protein yang masuk dalam saluran pencernaan.

Tidak adanya perbedaan nilai KcPK menunjukkan penggunaan ATF mampu menggantikan pengunaan ransum basal sampai taraf 15%. Penggunaan ATF sampai taraf 15% mampu memenuhi kecukupan protein dari ransum basal yang dikurangi sebanyak 15%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan proses fermentasi mampu meningkatkan nutrien dari bahan dasar (Mahfudz et al., 2004 dan Muis et al., 2010). Pertambahan Bobot Badan Harian Tabel 3 menunjukkan bahwa penggunaan ATF sampai taraf 15% menurunkan (P<0,05) PBBH puyuh jantan. Hasil uji jarak berganda Duncan memperlihatkan bahwa PBBH pada perlakuan P0% dan P5% tidak berbeda nyata tetapi pada P10% dan P15% lebih rendah dibandingkan perlakuan P0%. Pada penelitian ini, nilai KcPK cenderung menurun (P=0,09) seiring dengan meningkatnya taraf penggunaan ATF dalam ransum. Nilai KcPK yang cenderung menurun menyebabkan protein yang diserap oleh tubuh ternak menjadi rendah sehingga menyebabkan rendahnya PBBH pada perlakuan P10% dan P15%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ATF dalam ransum puyuh jantan dapat digunakan sampai taraf 5%. Mahfudz (2006a) menambahkan bahwa semakin meningkatnya kecernaan protein akan mempermudah metabolisme protein sehingga secara langsung juga akan meningkatkan PBBH. Protein merupakan struktur yang sangat penting untuk pertumbuhan jaringan didalam tubuh ternak seperti pembentukan daging, kulit, bulu dan paruh (Wahju, 2004). Penelitian ini tidak sesuai dengan Tanwiriah et al. (2006) yang menyatakan bahwa pemberian ampas tahu dalam ransum sampai taraf 30% tidak berpengaruh terhadap PBBH entok. Mahfudz et al. (2004) dan Mahfudz (2006) menambahkan bahwa penggunaan ampas tahu yang difermentasi dengan laru oncom mampu meningkatkan PBB ayam ras pedaging. Konversi Ransum Penggunaan ATF tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) pada konversi ransum (Tabel 3).

Tidak adanya perbedaan nilai konversi ransum pada tiap perlakuan menunjukkan bahwa puyuh memiliki kemampuan yang sama baiknya dalam mengonversi ransum. Tinggi rendahnya nilai konversi ransum sangat dipengaruhi oleh konsumsi ransum dan PBBH (Nuraini, 2009; Muis et al., 2010 dan Zahra et al., 2012). Sagala (2009) menambahkan bahwa semakin baik kualitas ransum, semakin kecil pula nilai konversi ransumnya. Baik tidaknya kualitas ransum, ditentukan oleh keseimbangan nutrien dalam ransum itu yang diperlukan oleh ternak. Penelitian ini tidak sejalan dengan Mahfudz (2004) yang menyatakan adanya peningkatan efisiensi penggunaan ransum yang mengandung bahan pakan hasil fermentasi pada ayam pedaging. Rasio Efisiensi Protein Penggunaan ATF tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) pada REP (Tabel 4).

Tidak adanya pengaruh nyata dari nilai REP disebabkan konsumsi ransum dan protein yang tidak berbeda nyata. Sesuai dengan pernyataan Iqbal (2012) dan Nuraini (2009) bahwa REP memiliki keterkaitan dengan konsumsi protein. Semakin rendah REP menunjukkan semakin rendah pula kualitas protein dari ransum tersebut karena setiap gram protein yang dikonsumsi akan menghasilkan PBBH yang lebih rendah. Mahfudz et al. (2010) menambahkan bahwa PBB berasal dari sintesis protein tubuh yang berasal dari protein ransum yang dikonsumsi. Protein ransum menentukan kualitas ransum untuk sintesis jaringan, pertumbuhan bulu dan produksi. Apabila kualitas ransum baik, akan menghasilkan PBB yang tinggi demikian juga sebaliknya. Penelitian ini sesuai dengan Nuraini (2009) yang menyatakan bahwa penggunaan bahan pakan hasil fermentasi tidak berpengaruh pada REP broiler.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ATF dapat digunakan sampai taraf 5% dalam ransum puyuh jantan.

 

 

 

 

 

Tag:

pakan ternak, mesin pelet, mesin pertanian, peternakan, saham agro, jual benih biji buah, wisata agro, mesin pertukangan, mesin alat bangunan

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!