close
Padi

Memanen Untung dari Black Rice

Beras hitam atau Black Rice ternyata memiliki nama yang berbeda-beda tiap daerah. Di Solo, beras ini dikenal masyarakat dan kalangan keraton sebagai beras Wulung, di Sleman Yogyakarta, beras hitam biasa disebut beras Cempo Ireng atau Jlitheng, di Bantul dikenal dengan sebutan beras Melik, sedangkan di Jawa Barat, tepatnya di Subang, beras ini biasa disebut dengan beras Gadog.

 

Meski berbeda-beda dalam penyebutannya, budidaya beras hitam di berbagai wilayah ini rata-rata sama, yaitu dengan proses pembudidayaan berbasis organik.

Tak hanya terkenal sebagai sajian istimewa para raja dan bangsawan, beras hitam ini ternyata memiliki kandungan mineral antosianin yang sangat baik untuk kesehatan. Saking istimewanya, dulu hanya petani istimewa pilihan keraton yang hanya boleh menanam beras hitam ini.

Saat ini beras hitam mulai dikenal masyarakat luas. Bukan saja karena kaya akan manfaat dan nilai ekonomi yang tinggi, namun dengan bertani beras hitam organik petani akan kembali belajar untuk bersikap arif terhadap lingkungan.

“Sebagai seorang petani, seharusnya kita memiliki semangat dalam ngajeni dan ngopeni tanah pertanian kita. Ngajeni dalam hal ini adalah menghormati tanah pertanian yang selama ini sudah menghasilkan banyak hal untuk kita.

Karena itu, jangan pernah berpikiran untuk merusak tanah pertanian dengan memberikan pupuk kimia yang berlebihan. Ngopeni, yaitu menjaga tanah pertanian dengan sebaik-baiknya, seperti memberikan pupuk yang aman terhadap lingkungan.” Ungkap Sukiman, salah seorang petani beras hitam organik asal Magetan, Jawa Timur.

Selain rasanya yang pulen dan wangi, beras hitam ternyata juga berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Tapi, belum banyak petani di Indonesia yang menanam padi hitam. Padahal, petani bisa meraup pendapatan yang cukup besar dari bercocok tanam padi hitam.

 

Dengan memanfaatkan lahan seluas 2,5 hektare, Purwanto dan lima petani lainnya di Argimulyo bisa menghasilkan sekitar 4 ton gabah beras hitam per hektare setiap kali panen. Ia menjual beras hitam seharga Rp 17.000 per kilogram (kg). Tetapi, “Di pasaran harganya bisa mencapai Rp 34.000 per kg,” ujarnya.

Proses penanaman padi hitam tidak jauh beda dengan padi biasa. Hanya, sistem tanamnya menggunakan system of rice intensification (SRI) . Yakni, penyemaiannya menggunakan besek dan penanamannya dengan biji tunggal atau tidak merumpun.

Umur tanam padi hitam lebih lama dibandingkan padi jenis lainnya. Padi hitam membutuhkan waktu 120 sampai 140 hari. Adapun masa tanam padi putih hanya 90 hari. Selain itu, bulir-bulir pada padi hitam lebih sedikit jumlahnya ketimbang padi putih.

 

Karena proses penanamannya masih secara organik, penanganan terhadap hama juga dilakukan secara alami. Contoh, untuk memberantas walang sangit, Purwanto hanya menggunakan bunga dan daun keningkir. Untuk pupuk, ia memanfaatkan sisa buah dan kotoran hewan ternak.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

pakan ternak, mesin pelet, mesin pertanian, peternakan, saham agro, jual benih biji buah, wisata agro, mesin pertukangan, mesin alat bangunan

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!