Burung Puyuh

Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Tepat Guna

Burung puyuh merupakan salah satu komoditi peternakan yang mempunyai peran dalam pemenuhan kebutuhan akan protein hewani berupa telur dan daging.

Bibit burung puyuh mempunyai peranan yang sangat strategis dalam proses produksi ternak, sehingga dalam perkembangannya diperlukan selain kuantitas juga kualitas bibit ternak untuk memenuhi kebutuhan.

Dalam perkembangannya diharapkan agar peran tersebut dapat terus ditingkatkan, sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pemenuhan akan kebutuhan protein hewani. Dalam rangka melindungi peternak dalam mendapatkan bibit ternak sesuai dengan standar mutu atau persyaratan teknis minimal dan persyaratan kesehatan hewan yang ditetapkan, maka diperlukan Pedoman Pembibitan Burung puyuh Yang Baik.

Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik

Ini merupakan acuan bagi pembibit burung puyuh dalam menghasilkan bibit burung puyuh yang bermutu dan bagi dinas yang menangani fungsi peternakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembinaan, bimbingan dan pengawasan dalam pengembangan usaha pembibitan burung puyuh.

Burung puyuh merupakan salah satu ternak yang mudah dibudidayakan dan memiliki peran penting dalam upaya
peningkatan pendapatan masyarakat melalui usaha peternakan burung puyuh. Beberapa keunggulan dari burung puyuh yaitu produksi telur yang tinggi dan masa pemeliharaan yang singkat.

Selain itu dalam pembudidayaan burung puyuh tidak memerlukan tempat yang luas dan investasi yang besar,
sehingga usaha peternakan burung puyuh ini dapat dilakukan oleh pemodal kecil maupun pemodal besar dengan skala usaha komersial.

Dalam pengembangan usaha peternakan burung puyuh ini dibutuhkan bibit yang memadai baik kualitas maupun
kuantitasnya mengingat bibit merupakan salah satu sarana produksi yang penting dalam budidaya ternak. Agar bibit yang dihasilkan memenuhi persyaratan mutu bibit maka perlu disusun suatu Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik (Good Breeding Practice).

B. Maksud

Maksud ditetapkannya pedoman ini yaitu sebagai:
1. Dasar dalam melakukan pembibitan burung puyuh untuk menghasilkan bibit yang bermutu;
2. Pedoman dalam melakukan pembinaan, bimbingan dan pengawasan bagi dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan dalam usaha pengembangan pembibitan burung puyuh.

C. Tujuan
Tujuan ditetapkannya Pedoman ini agar bibit yang dihasilkan memenuhi standar atau persyaratan teknis minimal dan kesehatan hewan.

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Yang Baik meliputi :
1. Prasarana dan sarana;
2. Sumber Daya Manusia;
3. Proses Produksi Bibit;
4. Pencatatan;
5. Pelestarian lingkungan;
6. Pengawasan dan Pelaporan.

E. Pengertian

Dalam Pedoman ini yang dimaksud dengan:
1. Pembibitan adalah kegiatan budidaya yang menghasilkan bibit ternak untuk keperluan sendiri atau untuk diperjual
belikan;
2. Pembibitan Burung Puyuh adalah kegiatan budidaya burung puyuh untuk menghasilkan bibit ternak bagi keperluan sendiri atau diperjualbelikan;
3. Bibit Induk adalah jantan dan/atau betina dengan spesifikasi tertentu untuk menghasilkan bibit niaga/sebar;
4. Bibit Niaga/Sebar adalah bibit dengan spesifikasi tertentu untuk dipelihara guna menghasilkan telur/daging;
5. Day Old Quail yang selanjutnya disingkat DOQ adalah anak burung puyuh yang berumur satu hari;
6. Burung Puyuh Pemula (quail starter) adalah anak burung puyuh yang berumur satu hari sampai tiga minggu;
7. Burung Puyuh Dara (quail grower) adalah burung puyuh yang berumur tiga sampai enam minggu;
8. Burung Puyuh Dewasa (quail layer) adalah burung puyuh yang sudah berproduksi umur enam minggu sampai umur 58 (lima puluh delapan) minggu;

9. Daya Tetas adalah angka yang menunjukkan jumlah burung puyuh yang menetas dibagi jumlah telur awal yang ditetaskan, kali 100 %;
10. Pejantan adalah burung puyuh jantan dewasa dengan umur minimal enam minggu yang digunakan untuk mengawini burung puyuh induk dan mampu menghasilkan keturunan;
11. Induk adalah burung puyuh betina dewasa dengan umur minimal enam minggu yang dipelihara dan dikembangbiakkan untuk memperoleh keturunan;
12. Seleksi adalah kegiatan memilih tetua untuk menghasilkan keturunannya melalui pengujian berdasarkan kriteria dan tujuan tertentu dengan menggunakan metode dan teknologi tertentu;
13. Pengafkiran/Culling adalah suatu tindakan pengeluaran ternak sebagai tetua karena tidak lolos dalam seleksi;
14. Pengawas Bibit Ternak adalah pegawai negeri sipil yang memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas pengawasan bibit dan/atau benih ternak sesuai peraturan dan perundangundangan yang berlaku;
15. Biosekuriti adalah semua tindakan yang merupakan pertahanan pertama untuk pengendalian wabah yang dilakukan untuk mencegah semua kemungkinan kontak/penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit;
16. Quail Housed adalah angka yang menunjukkan jumlah telur yang dihasilkan dibagi jumlah puyuh yang masuk kandang pada awal bertelur, kali 100 %;
17. Quail Day adalah angka yang menunjukkan jumlah telur yang dihasilkan dibagi jumlah puyuh pada saat itu, kali 100%.

Baca Juga: Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Tepat Guna

Baca Juga: Keberhasilan dan Keuntungan Ternak Burung Puyuh Pedaging dan Petelur

Baca Juga: Tips Usaha Ternak Puyuh Pemula dan Desain Kandang Modern

Baca Juga: Pertumbuhan Puyuh Lebih Maksimal dengan Cahaya Monokromatik

Baca Juga: Pertumbuhan Puyuh Setelah Pemberian Tepung Kunyit pada Pakan

Baca Juga: Pembagian Keuntungan dan Permodalan Budidaya Burung  Puyuh

Baca Juga: Ternak Burung Puyuh Tak Biasa Menguntungkan

Baca Juga: Tips Kandang  Indukan Puyuh dan Kandang Burung Puyuh Dewasa

Baca Juga: Kandang Puyuh Petelur Semi Modern dan Tingkatkan Produksi  Telur

 Baca Juga: Cara Sukses Budidaya Burung Puyuh Petelur Secara Modern

Baca Juga: Membaca  Peluang Usaha Ternak Puyuh

Tips Bisnis

Baca Juga: Dana Hibah Pelaku Usaha 2017 Tanpa Syarat

Baca Juga: Bentuk Bantuan Pendanaan dan Mekanisme Penyalurannya

Baca Juga: Bentuk Pembiayaan Dana Bantuan

Baca Juga: Sasaran Dana Dari Lembaga Bantuan Hibah

Baca Juga: Mekanisme Penyaluran Dana Oleh Lembaga Donor

Baca Juga: Contoh Proposal Dana Bantuan Budidaya Ikan

Baca Juga: Akses Lembaga Donor Dana Hibah Untuk Pelaku Usaha dan Organisasi

Baca Juga: Daftar Lembaga Penyedia Dana Pembiayaan

Sarana dan Prasarana Pembibitan Burung Puyuh 

A. Prasarana Burung Puyuh
1. Lokasi
Lokasi pembibitan burung puyuh harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR), Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Rencana Bagian Wilayah Kota (RBWK) di masing-masing wilayah kota/kabupaten;
b. memiliki izin Hinder Ordonantie (HO)/Undang-undang Gangguan;
c. tidak berada di lingkungan pemukiman atau perumahan;
d. diberi pagar keliling;
e. berjarak minimal 1.000 (seribu) meter dari usaha peternakan unggas lainnya;
f. lokasi peternakan merupakan daerah bebas banjir;
g. memperhitungkan lingkungan hayati dan topografi sehingga kotoran dan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan.

2. Lahan
Lahan yang digunakan untuk pembibitan burung puyuh harus memenuhi persyaratan:
a. bebas dari jasad renik yang membahayakan ternak dan manusia;
b. luas lahan sesuai kapasitas produksi.

3. Air, Sumber Energi, dan Jalan
a. Air
Tersedia sumber air yang cukup dan memenuhi baku
mutu air sesuai dengan peruntukannya.

b. Sumber Energi
Tersedia sumber air yang cukup untuk penerangan dan operasional pembibitan.

c. Jalan
Mempunyai akses transportasi untuk memenuhi
kebutuhan sarana produksi dan pemasaran bibit yang
dihasilkan.

B. Sarana
1. Bangunan, Konstruksi dan Desain serta Tata Letak
a. Bangunan
1) Setiap usaha pembibitan burung puyuh memiliki fasilitas sebagai berikut:
a). kandang luar yaitu kandang yang di dalamnya memuat kandang batterei koloni yang berisi burung puyuh dari periode umur yang sama (periode starter, grower ataupun layer);
b). bangunan penetasan (hatchery);
c). kandang isolasi;
d). gudang penyimpanan pakan;
e). gudang peralatan;
f). tempat pemusnahan/pembakaran puyuh mati;
g). bak dan saluran pembuangan limbah; dan
h). bangunan kantor untuk administrasi.

2). Konstruksi dan Desain Bangunan Burung Puyuh
Konstruksi dan desain bangunan harus memerhatikan faktor keselamatan kerja, keamanan dan kenyamanan serta kesehatan burung puyuh.
Konstruksi dan desain bangunan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a). bangunan terbuat dari bahan yang kuat, dengan konstruksi dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dalam pemeliharaan, pembersihan dan desinfeksi;

b). konstruksi bangunan gudang pakan dibuat agar kondisi pakan yang disimpan tetap terjaga mutunya;
c). mempunyai ventilasi yang cukup sehingga pertukaran udara dari dalam dan luar kandang lancar, suhu optimal berkisar 26,50C dengan kelembaban udara 70-80%;
d). drainase dan saluran pembuangan limbah baik dan mudah dibersihkan;
e). daya tampung kandang burung puyuh disesuaikan dengan umur, sebagai berikut:

 

b. Tata Letak Bangunan Kandang Burung Puyuh
Penataan letak bangunan kandang dan bukan kandang di dalam lokasi pembibitan burung puyuh memerhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) bangunan kantor dan mess karyawan harus terpisah dari bangunan perkandangan;
2) tata letak antar bangunan menjamin tidak terjadi pencemaran yang berasal dari burung puyuh yang lebih tua kepada burung puyuh yang lebih muda;
3) kandang membujur dari timur ke barat dan cukup sinar matahari;
4) jarak antar bangunan kandang minimal satu kali lebar kandang yang diukur dari tepi atap kandang;
5) jarak antara kandang, kandang isolasi, bangunan penetasan (hatchery) dan bangunan lainnya minimal 10 (sepuluh) meter.

2. Peralatan
Peralatan yang digunakan harus sesuai dengan kapasitas/jumlah burung puyuh yang dipelihara, mudah digunakan dan dibersihkan serta tidak mudah berkarat.
Peralatan tersebut antara lain:
a. alat pemanas sebagai induk buatan (brooder);
b. ventilator sebagai alat pengatur aliran udara;
c. tempat pakan dan minum;
d. alat sanitasi dan pembersih kandang;
e. termometer dan alat pengukur kelembaban udara;
f. timbangan;
g. alat fumigasi telur;
h. tempat telur /egg tray;
i. alat potong paruh dan kuku;
j. mesin penetas;
k. peralatan pengangkut limbah dan bangkai;
l. alat pemusnah bangkai;
m. peralatan kesehatan hewan.

3. Bibit Burung Puyuh
a. bebas dari penyakit unggas menular;
b. memenuhi standar atau persyaratan teknis minimal;
c. berasal dari usaha pembibitan.

4. Pakan Puyuh
a. pakan yang digunakan harus memenuhi persyaratan mutu pakan dan sesuai dengan kebutuhan
b. pakan yang dibuat atau lebih dimasukkan ke lokasi pembibitan dilarang untuk diedarkan ke luar lingkungan
pembibitan.

5. Obat Hewan
a. obat hewan yang digunakan harus sudah memperoleh nomor pendaftaran dari Kementerian Pertanian;
b. penggunaan obat hewan yaitu sediaan farmaseutik, biologik (vaksin), premiks (feed additive dan feed supplement) dan obat alami harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan;
c. penggunaan obat hewan klasifikasi obat keras harus dibawah pengawasan dokter hewan.

Pedoman Pembibitan Burung Puyuh Tepat Guna

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!