Peternakan

Pemanfaatan Limbah Sawit dan Kakao Sebagai Pakan Ternak

Pemanfaatan Limbah Sawit dan Kakao Sebagai Pakan Ternak. Pemanfaatan Limbah Perkebunan Dan Pertanian Sebagai Pakan Belum Optimal. Penggunaan bahan-bahan pakan penguat masih sangat minim dilakukan oleh peternak, mengingat belum adanya industri pengolahan bahan pakan dari limbah perkebunan dan pertanian yang khusus bagi ternak ruminansia di sumut.

Kendala utama dalam pemanfaatan hasil sampingan perkebunan dan pertanian serta industri pengolahannya adalah sifatnya yang tidak tahan lama dan perlu berbagai macam jenis limbah untuk disusun menjadi ransum dengan kandungan nutrisi sesuai dengan kebutuhan pakan ternak.

Peternak dengan skala usaha kecil terlalu sulit untuk melakukan ini dan hanya mengharapkan hijauan rerumputan untuk memenuhi pakan ternaknya. Hasil sampingan perkebunan yang berpotensi dipergunakan sebagai pakan ternak dari tanaman kelapa sawit (Orbignya cohune) berupa bungkil inti sawit (PKC) , Lumpur sawit, sabut sawit, daun dan pelepah.

Bungkil inti Sawit (PKC) Lumpur sawit, Sabut sawit, Daun dan Pelepah Alternatif Pakan Ternak Yang Bagus

Bungkil inti sawit (PKC), sebagian besar di ekspor sebagai bahan mentah untuk industri peternakan negara maju. Sabut sawit sebagian dipakai sebagai bahan bakar sedangkan lumpur sawit sebagian besar masih merupakan sumber pencemaran lingkungan. Dilihat dari komposisinya sabut sawit lebih rendah kandungan metabolisme energi/ MEnya dari pada rumput gajah (7.6 vs 8.2 Mj/kgBK) dan kandungan protein kasar/ PKnya juga lebih rendah (5.9 vs 8.7%), dengan sedikit suplementasi urea, sabut sawit dapat dibuat isokalori dan isonitrogen dengan rumput-rumputan.

 

Kandungan PK lumpur sawit setara dengan dedak padi (13.3% vs 13%) sedangkan kandungan MEnya lebih tinggi. Dari hasil penelitian dilapangan bahwa rumput lapangan dapat digantikan sebanyak 50% oleh sabut sawit sedangkan dedak padi dapat digantikan seluruhnya dengan lumpur sawit (12%).

Percobaan pada sapi perah ternyata kecernaan in vitro lumpur sawit dan laju degradasinya dalam rumen sapi lebih tinggi dibandingkan dedak padi. Pelepah daun kelapa sawit sampai saat ini belum diolah, dan terbuang begitu saja dan sebagian kecil dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Akan tetapi di Malaysia pelepah daun sawit telah diolah menjadi pellet dan diekspor kenegara maju sebagai bahan mentah industri peternakan yang disebut oil palm frod (OPF).

Tanaman Kakao (Theobroma cacao) yang dapat dimanfaatkan Tambahan Pakan Ternak

Dari tanaman Kakao (Theobroma cacao) yang dapat dimanfaatkan oleh pakan ternak adalah : Pod Kakao sangat tinggi kandungan airnya (83%) maka mudah membusuk. Penyebaran pod disekitar tanaman dapat mengembalikan unsur hara kedalam tanah akan tetapi dapat berdampak dan mengundang infeksi jamur phytophtora palmivora pada buah yang dikenal dengan nama black pod disease. Untuk mencegah kejadian itu seyogyanya pod kakao dijauhkan dari tanaman dan akan efisien sekali jika dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Keberadaan pod kakao pada ransum dapat menggantikan seluruhnya posisi rumput gajah. Bahkan 40 – 70% jagung yang biasa dipakai dalam ransum penggemukan dapat diganti oleh pod kakao.

Lumpur kakao sampai saat ini belum dipergunakan dan perannya sekarang sebagai sumber polusi. Kalau dilihat dari nilai gizinya dapat dipergunakan sebagai bahan pakan ternak kaya sumber protein disamping itu juga kandungan energinya lebih tinggi dari jagung dan bungkil kedelai.

Kulit biji Kakao kandungan zat gizi dan energinya lebih baik dari Dedak Padi
Dari hasil pengolahan tebu (Sacharum officinarum) menjadi gula diperoleh hasil samping berupa : Ampas tebu, tetes/ molases, blotong dan baggase. Bagasse dan tetes untuk ternak sapi perah dan potong dapat digunakan sampai level 25% dan 15%.
Hasil sampingan pertanian umumnya digunakan sebagai pakan ternak seperti : Jerami padi, kedelai, kacang tanah, jagung, dan lainnya dapat diberikan pada ternak ruminansia dan sebaiknya dicampur dengan hijauan lainnya Masalahnya sekarang adalah kapan semua ini membawa kebaikan bagi masyarakat peternak dan tidak hanya asyik untuk diperbincangkan dan didiskusikan dalam seminar, pertemuan koordinasi, lokakarya, symposium dengan dana yang tidak sedikit. Perhatian dan tindakan nyata sangat dibutuhkan./Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!