Pembinaan Pemeliharaan Ternak Kambing

Apabila kondisi kesehatan Kambing baik maka ternak ini akan dapat menjalankan segala fungsi biologisnya dengan baik. Anak-anak kambing (cempe) akan dapat tumbuh cepat, kemudian berkembangbiak lebih banyak sehingga cepat dapat dipasarkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat lebih meluas.
Telah kita maklumi bersama, bahwa pencegahan penyakit lebih utama dari pada pengobatannya. Oleh karena ternak yang terserang penyakit, selain mahal untuk mengobatinya (menyembuhkannya), juga kalaupun masih laku atau sempat dijual, maka harganya akan jauh merosot. Disamping itu ternak yang pernah terserang penyakit kemampuan produksi dan reproduksinya rendah.

Ternak tersebut tidak efisien lagi untuk dipelihara lebih lanjut. Kerugian akibat kematian ternak telah banyak diungkapkan dari laporan dinas-dinas peternakan maupun hasil penelitian. Akan tetapi berapa besar kerugian diakibatkan oleh ternak-ternak yang terganggu kesehatannya (tidak sampai mematikan) sehingga menurunkan potensi produksi dan reproduksinya, kita belum berhasil mengungkapkannya.

 

Pakan Ternak Kambing dan Daerah Penyebaran Kambing

Kambing adalah hewan ternak yang sangat lincah dan terampil dalam mencari bahan makanan untuk dapat mempertahankan hidupnya. Karena bentuk badannya yang kecil dan ringan bobotnya, maka ternak kambing lebih mampu menyesuaikan diri di daerah pegunungan atau dataran tinggi yang berbukit-bukit dibandingkan dengan ternak sapi maupun kerbau. Ternak ini memiliki kemampuan hidup tinggi baik di daerah subtropis maupun di daerah tropis yang keadaan mutu dan sumber bahan makanannya sangat kurang. Lebih-lebih di daerah yang keadaan lingkungan hidupnya sangat kering, ternak kambing lebih mampu mempertahankan hidupnya dari pada ternak ruminansia lainnya.
Ternak kambing terkenal memiliki toleransi terhadap berbagai hijauan rerumputan dan dedaunan. Ternak ini mampu memanfaatkan bermacam-macam hijauan yang tidak dapat dimanfaatkan oleh ternak ruminansia lain seperti sapi dan domba. Hasil berbagai studi menunjukkan bahwa lebih banyak macam (spesies) tanaman yang dimakan kambing dari pada yang dimakan domba maupun sapi, yaitu masing-masing 90, 20 dan 17 macam. Dengan demikian dapat dipahami bahwa daerah penyebaran kambing sangat luas sehingga terdapat di segala pelosok penjuru tanah air.
Daerah penyebaran kambing yang meluas di Indonesia selain ternak ini memiliki daya adaptasi sangat baik dan daya tahan hidup tinggi dalam keadaan lapangan dengan stres lingkungan yang keras. Juga penting bahwa masyarakat umum secara meluas menerima kehadiran ternak kambing. Tidak demikian halnya seperti pada ternak babi dan mungkin kelinci yang kehadirannya perlu mendapat pengamatan berlanjut dari segi sosial ekonomi dan pemasarannya.

Cara Pemeliharaan Ternak Kambing.

Walaupun terdapat perbedaan antara bangsa terhadap adaptasi dan daya tahan hidupnya di suatu lingkungan tertentu, namun kambing terkenal sebagai ternak ruminansia yang lebih cocok untuk daerah yang beriklim panas dan kering. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa ternak kambing hanya mampu berkembangbiak di daerah panas dan kering saja. Konsentrasi ternak kambing di daerah tropik kering, oleh karena di daerah ini kurang peluang untuk pilihan tanaman yang dapat ditanam (Icordean, 1981).
Di negara maju berkurangnya populasi kambing erat kaitannya dengan tingkat ekonomi dan pengembangan industri yang banyak menyerap tenaga kerja. Sebaliknya di negara yang tingkat kehidupan sosial ekonominya masih belum berkembang maju, pengembangan peternakan kambing sangat penting, karena memiliki potensi produksi yang dapat dimobilisir dalam waktu relatif pendek dan dengan biaya yang relatif murah (Horst, 1976).
Usaha peningkatan produksi peternakan kambing di daerah pedesaan, khususnya yang berlokasi di sekitar perkebunan karet Pondok Gede Cigombong Bogor menunjukkan tersedianya potensi sumber manusia (tenaga kerja) dan sumber hijauan makanan alami (hijauan makanan kambing) yang sangat mendukung bagi usaha pembangunan peternakan kambing rakyat di sekitar perkebunan karet tersebut (Abdulgani, 1981).

Cara Pemeliharaan Kambing

Cara pemeliharaan kambing yang terus menerus dikandangkan dan tidak pernah dikeluarkan (kecuali kalau mau dikawinkan), sedangkan pemberian makanannya diambilkan yang terdiri dari rerumputan yang tumbuh di tanah di bawah pohon-pohon karet, ternyata telah berlangsung puluhan tahun terus menerus secara turun temurun. Selain terdapat faktor pendukung yang telah dikemukakan, juga didapatkan adanya faktor penghambat yang memerlukan penanganan baik terhadap ternaknya sendiri maupun yang menyangkut masalah pembinaan ataupun penyuluhan terhadap petani peternak kambing bersangkutan.
Salah satu pengalaman dan pengamatan penulis yang masih serba terbatas di beberapa daerah misalnya di daerah Karawang (1963/1964) baik yang berlokasi di daerah pedesaan bagian utara maupun didaerah pedesaan bagian selatan ternyata didapaatkan kambing di kedua daerah tersebut. Dibagian utara didapatkan lebih banyak kambing keturunan Etawah, sedangkan dibagian selatan lebih banyak kambing lokal yang memiliki lebih banyak daerah kambing Kacang.

Namun hal ini (keadaan lokasi) tidak menunjukkan bahwa daerah selatan yang berbukit-bukit atau daerah pegunungan lebih cocok bagi kehidupan/pemeliharaan kambing Kacang. Namun hal ini (keadaan lokasi) tidak menunjukkan bahwa daerah selatan yang berbukit-bukit atau daerah pegunungan lebih cocok bagi kehidupan/ pemeliharaan kambing Kacang. Sedangkan bagian utara (daerah pesawahan pesisir) lebih cocok bagi kambing keturunan Etawah. Seperti dapat kita saksikan di daerah pegunungan Cangkrep (Purworejo) adalah merupakan sumber bibit kambing yang memiliki daerah Etawah tinggi. Juga di daerah pegunungan Cipanas (Bogor) ternyata banyak dipelihara kembing keturunan Etawah.
Sangat mungkin kedua keadaan tersebut erat hubungannya dengan faktor kesempatan bagi petani peternakan bersangkutan untuk memelihara salah satu atau kedua macam kambing tersebut. Yang perlu mendapat perhatian bagi pengambil kebijakan di subsektor penyebaran/pengembangan ternak kambing atau para pimpinan suatu proyek yang mau mengembangkan kambing adalah daerah sumber dan penerima penyebaran kambing hendaknya mendapat pengamatan seksama, dan hal ini tidak mudah bagi mereka yang belum banyak pengalaman lapangan.

Petani peternak kambing di pedesaan umumnya telah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan setempat sehingga tidak menimbulkan konflik. Di daerah yang berpenduduk jarang dengan tanah yang kosong yang luas, pemeliharaan kambing dilakukan secara ekstensif (digembalakan). Sedangkan di daerah dengan penduduk yang cukup padat, pemeliharaan kambing dilakukan secara intensif (dikandangkan terus dan tidak dilepas). Lingkungan yang mungkin menguntungkan bagi pemeliharaan kambing adalah di daerah yang banyak atau cukup sumber bahan makanannya dan lokasinya tidak terlalu jauh dari pasar hewan.
Sistem pemeliharaan kambing rakyat di Indonesia senantiasa mengikuti tingkat perkembangan peradaban dalam kehidupan dan penghidupan manusia di suatu daerah tertentu. Didaerah pertanian yang belum berkembang dengan tanah kosong yang masih luas (ekstensif) dan jarang penduduknya, sistem pemeliharaan kambing yang dilakukan berbeda dengan yang terdapat di daerah pertanian intensif dengan penduduk agak padat. Dari yang dilepas dengan begitu saja tanpa penggembala dan pulang sendiri, ditambahkan dengan seutas tali, sampai ke sistem pemeliharaan gedongan (dikandangkan terus menerus dan makanannya disabitkan), hingga ke sistem pemeliharaan kambing di ladang ternak (ranch), maka berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis masing-masing memiliki ciri-ciri tersendiri, baik keuntungan maupun kerugiannya.
Yang perlu menjadi perhatian kita dalam sistem pemeliharaan kambing yang erat kaitannya dengan masalah kesehatan dan kebersihan baik untuk yang memelihara maupun bagi kembingnya sendiri adalah sistem pemeliharaan kambing yang serumah dengan rumah pemeliharanya seperti yang masih terdapat di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Cara pemeliharaan demikian tentu saja tidak sehat dan tidak kita kehendaki. Akan tetapi menganjurkan atau memberikan penyuluhan agak tidak mudah begitu saja diturut atau dilaksanakan, oleh karena mengangkut soal biaya khususnya untuk membuat kandang di luar rumah ( dan tidak boleh menyatu salah satu dinding atau atapnya dengan rumah yang memelihara). Mengikutsertakan mereka dalam kegiatan proyek pengembangan kambing sebagai penerima kredit berjangka panjang dengan bunga yang ringan merupakan cara yang baik untuk dapat membawa mereka ke sistem pemeliharaan yang sehat dan bersih.

Kesehatan Ternak Kambing

Dalam kegiatan penyidikan penyakit hewan atau ternak, jarang bahkan hampir tidak pernah yang menyangkut ternak kambing. Kegiatan penyidikan umumnya dilakukan pada ternak ruminansia besar dan unggas. Mungkin dari ternak ruminansia kecil (kambing dan domba) dianggap kurang berarti sumbangan yang diberikan kepada pemerintah, walaupun tidak sedikit dari ternak ini yang secara langsung dimanfaatkan (dikonsumsi) tanpa melalui jalur pemasaran resmi.
Mungkin bukan tempatnya disini untuk mengutarakan secara lengkap keadaan berbagai penyakit pada kambing. Beberapa kasus penyakit yang banyak/sering penulis temukan dari pengalaman di lapangan adalah penyakit kudis mular (scabies), beberapa penyakit cacing giling haemonchus spp, cacing hati fasciola spp, cacing pita, penyakit mata (pink eye), penyakit mulut (soremouth), infeksi talipusar dan mutitis.
Gangguan kesehatan akibat berbagai penyakit tersebut adalah penurunan produksi dan produktivitas kambing yang terserang yang mengakibatkan kerugian ekonomi tidak sedikit. Tingkat kematian akan tinggi apabila tidak dilakukan penanganan sedini mungkin melalui berbagai tindakan pencegahan dan perbaikan pengelolaannya.
Selain akibat penyakit, gangguan kesehatan atau mungkin kematian dapat terjadi karena keracunan, gangguan metabolisme akibat defisiensi unsur hara, dan akibat adanya silang dalam (inbreeding). Akibat dari kedua keadaan yang terakhir ini dalam praktek khususnya pada ternak kambing belum kita ketengahkan karena agaknya belum ada yang sempat mengeksplorasi atau menekuninya lebih mendalam.

Padahal proses produksi yang merupakan siklus awal mungkin banyak terjadi akibat gangguan dari kedua faktor tersebut, yaitu keadaan penurunan tingkat kesuburan (fertility) dan daya tahan hidup yang kurang dari focus yang masih dalam kandungan maupun setelah kehadirannya di dunia. Ketiga keadaan ini akan banyak menimbulkan kerugian ekonomi dari adanya penurunan tingkat kebuntingan, tingkat kelahiran dan persentasi keturunan ternak kambing yang dapat dipasarkan selain berkurang juga membutuhkan waktu lebih lama karena rendahnya tingkat pertumbuhan. Akibat lebih lanjut adalah hambatan ternak tersebut dalam mencapai produksi awal dan produktivitas yang rendah selama hidupnya.
Selain hal-hal yang dikemukakan tadi, faktor lain yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan ternak adalah kejadian akibat kecelakaan dan mungkin akibat gangguan iklim. Kedua keadaan ini dengan usaha peningkatan manajemen yang lebih bersifat preventif akan banyak dikurangi.

Sistem Pengendalian produksi dan produktivitas Ternak Kambing 

Dalam upaya meningkatkan produksi dan produktivitas ternak kambing adalah sangat penting untuk menjaga agar ternak tersebut tidak terganggu kesehatannya atau jatuh sakit (bayangkan kalau semua ternak sakit dan mati), adalah terjadinya berbagai hambatan dalam pembangunan. Dan tentu saja hal ini tidak kita kehendaki. Keadaan tersebut penulis coba mengutarakannya dalam bagian ilustrasi 1.
Pengendalian penyakit (disease contrak) merupakan salah satu upaya untuk menjaga agar ternak tetap sehat dengan penampilan produktivitas yang dikehendaki. Beberapa faktor yang mempengaruhi penampilan produktivitas ternak secara umum diutarakan dalam bagan ilustrasi 2.
Sistem pengendalian untuk mengatasi gangguan kesehatan yang erat kaitannya dengan upaya peningkatan produktivitas ternak meliputi usaha-usaha perencanaan dan pelaksanaan terpadu dari beberapa instansi dalam pengendalian dari kendala-kendala lingkungan seperti masalah penyakit, kekurangan makanan dalam jumlah maupun mutunya dan pengaruh iklim yang buruk. Terhadap petani peternaknya sendiri memerlukan peningkatan keterampilan dalam teknik pengelolaan ternaknya. Selain itu adanya pengaruh buruk yang timbul akibat silang dalam yaitu daya tahan hidup yang menurun memerlukan pengaturan dan pengawasan dalam sistem perkawinannya (lihat ilustrasi 3).

Kesimpulan dan Saran Produksi dan Produktivitas Ternak Kambing 

Dari tinjauan pustaka dan berdasarkan pengalaman di lapangan dapat dikemukakan rangkuman kesimpulan dan saran sebagai berikut :
(1) Oleh karena bentuk usahanya yang bersifat tradisional maka masih banyak ditemukan kendala-kendala lingkungan yang memerlukan penanganan dalam pengendalian gangguan kesehatannya sehingga upaya peningkatan produktivitas ternak kambing sekaligus peningkatan pendapatan petani peternak bersangkutan dapat dicapai semaksimal mungkin.
(2) Kendala-kendala lingkungan yang memerlukan pengendalian dalam rangka pembinaan aneka ternak, khususnya kambing adalah gangguan kesehatan akibat penyakit kulit scabies, penyakit cacing haemonchiasis, fascioliasis, cacing pita, radang mata, radang sekitar mulut, antraxs, infeksi tali pusar dan mastitis. Kendala lingkungan lainnya yang dapat mengganggu kesehatan atau mungkin kematian adalah akibat kecelakaan, keracunan dan kekurangan makanan dalam kualitas maupun kuantitas.
(3) Selain faktor lingkungan yang mengganggu kesehatan kambing, faktor lain yang memberi peluang penurunan kesehatan kambing rakyat di pedesaan adalah terjadinya kawin sekeluarga (silang dalam atau inbreeding) yang tidak terarah. Hal ini mengakibatkan penurunan daya hidup dan fertilitas. Perlu pengaturan sistem perkwinan bergilir dan merata.
(4) Diperlukan sistem pengendalian terpadu dari beberapa institusi untuk menanggulangi berbagai gangguan kesehatan peternakan rakyat di pedesaan seperti diutarakan dalam ilustrasi 3 untuk bahan diskusi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!