Perawatan Sarang Burung Walet Siap Panen

Perawatan Sarang Burung Walet Siap Panen, tentu membutuhkan perawatan dan perhatian khusus supaya panen lebih maksimal.

Sebelum ke perawatan burung walet, kami berbagi pengetahuan sedikit di bawah ini.

Pusat Budidaya Peternakan Burung Walet

Sentra Peternakan burung walet banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah

Klasifikasi Burung Walet

Klasifikasi Burung Walet adalah sebagai berikut:
Superorder   : Apomorphae
Order              : Apodiformes
Family            : Apodidae
Sub Family   : Apodenae
Tribes             : Collacaliini
Genera           : Collacalia
Species          : Collacaliafuciphaga

Apa Manfaat Sarang Burung Walet ?

Sarang walet berguna untuk menyembuhkan paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga. Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat bermanfaat bagi duni kesehatan.

Persyarat Lokasi Peternakan Burung Walet

Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:

  1. Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
  2. Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat.
  3. Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
  4. Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.

Hama dan Penyakit Burung Walet

  1. Tikus
    Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman.
    Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.
  2. Semut
    Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur.
    Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.
  3. Kecoa
    Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak sempurna.
    Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian.
  4. Cicak dan Tokek
    Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet.
    Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.

Baca Juga: Jenis Burung Walet Collacalia Fuciphaga

Baca Juga: Pengaruh Desain Atap Sangat Penting Dalam Budidaya Sarang Burung Walet

Baca Juga: Desain Rumah Walet dan Lokasi Gedung Sarang Burung Walet

Baca Juga: Sejarah Budidaya Burung Walet di Indonesia

Baca Juga: Kebutuhan Sarang Walet Pasar China Genjot Ekspor dari Jawa Timur

Baca Juga: Kabupaten Blitar Berperan Aktif dalam Industri Budidaya Sarang Burung Walet

Baca Juga: Tiga Macam Pemilik Budidaya Rumah Burung Walet

Baca Juga: Cara Cepat Burung  Walet Bersarang di Rumah Walet

Baca Juga: Tips Sukses Budidaya Ternak Burung Walet Secara Modern

Baca Juga: Daftar Harga  Sarang Walet dan Sriti 2017

 Baca Juga: Perawatan Sarang Burung Walet Siap Panen

Baca Juga: Rahasia Sukses Budidaya Pengembangan Ternak Burung Walet

Baca Juga: Budidaya Ternak Burung Walet Intensif dan Modern

Baca Juga: Rahasia Teknik Budidaya Ternak Burung Walet Secara Modern

Tips Bisnis

Baca Juga: Dana Hibah Pelaku Usaha 2016 Tanpa Syarat

Baca Juga: Bentuk Bantuan Pendanaan dan Mekanisme Penyalurannya

Baca Juga: Bentuk Pembiayaan Dana Bantuan

Baca Juga: Sasaran Dana Dari Lembaga Bantuan Hibah

Baca Juga: Mekanisme Penyaluran Dana Oleh Lembaga Donor

Baca Juga: Contoh Proposal Dana Bantuan Budidaya Ikan

Baca Juga: Akses Lembaga Donor Dana Hibah Untuk Pelaku Usaha dan Organisasi

Baca Juga: Daftar Lembaga Penyedia Dana Pembiayaan

Memanen Sarang Burung Walet

Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik.  Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan. Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Panen rampasan
    Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
  2. Panen Buang Telur
    Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya.
  3. Panen Penetasan
    Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat.

Adapun waktu panen adalah:

  1. Panen 4 kali setahun
    Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen selanjutnya dengan pola buang telur.
  2. Panen 3 kali setahun
    Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu, panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan dan buang telur.
  3. Panen 2 kali setahun
    Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk memperbanyak populasi burung walet.

 

Hasil panen dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor. Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan penyortiran dari hasil yang didapat.

Kebutuhan akan sarang burung walet di pasar internasional sangat besar dan masih kekurangan persediaan. Sarang burung walet merupakan komoditi ekspor yang bernilai tinggi. Hal ini disebabkan oleh masih kurang banyaknya budidaya burung walet. Selain itu juga produksi sarang walet yang telah ada merupakan produksi dari sarang-sarang alami. Budidaya sarang burung walet sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik dan intensif.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Mackinnon, John. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung di Jawa dan Bali. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994.
  2. Nazaruddin & A. Widodo. Sukses Merumahkan Walet. Cet. 2. Jakarta: Penebar Swadaya, 1998.
  3. Tim Penulis PS. Budidaya dan Bisnis Sarang Walet. Cet. 4. Jakarta: Penebar Swadaya, 1994.
  4. Chantler, P. & G. Driessens. Swift : A guide to the Swift an Treeswift of the World. Pica Press, the Banks. East Sussex, 1995.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!