Perkebunan

Pupuk Hayati, Hormon Pupuk Daun dan Enzim Pendongkrak Produksi Tanaman

Pendongkrak Produksi dari Tanaman. Selama ini pupuk hayati identik dengan mikroba tanah. Mikroba tanah ini berperan sebagai penambat nitrogen serta melarutkan fosfat dan kalium, sehingga lebih mudah diserap tanaman. Di sisi lain ada alternative lain yang jarang diketahui orang, yaitu mikroba yang berasal dari daun, cabang, dan batang tanaman. Dengan adanya alternative ini penggunaan pupuk hayati bisa disemprotkan ke permukaan tanaman tanpa dibenamkan ke tanah.

 

Bakteri yang berada di permukaan daun bernama Methylobacterium spp.  Bakteri ini bisa bertahan pada cuaca ekstrem dan berubah-ubah. Suhu pada daun panas sekali jika matahari terik dan sangat dingin jika malam hari. Kelembaban pada daun juga berubah-ubah, bisa sangat rendah ataupun sangat tinggi. Berbeda dengan bakteri tanah yang mengharuskan lingkungannya memiliki kelembaban tinggi. Apabila lingkungan kering, bakteri akan mati. Oleh karena itu kebanyakan pupuk hayati berperan secara optimal pada saat tanah lembab.

Methylobacterium spp dapat hidup di lingkungan yang ekstrem karena dapat menghasilkan pigmen jingga hingga merah muda (karoten) untuk menahan sinar ultraviolet. Selain itu, bakteri ini juga mengeluarkan enzim methanol dehidrogenase yang mampu memanfaatkan methanol yang dilepas stomata daun menjadi sumber makanan dan energi. Keunggulan ini menjadikan Methylobacterium spp sebagai alternative ramah lingkungan yang dapat mengurangi gas metan yang dikenal sebagai pemicu pemanasan global.

 

Di hutan perawan, keberadaan Methylobacterium spp sangat melimpah, misalnya pada daun kantong semar, anggrek hitam, dan durian lay jumlah bakteri ini sekitar 103 – 105 cfu/gram daun. Sementara itu keberadaan bakteri ini hanya 102 cfu/gram daun pada tanaman budidaya. Apalagi jika tanaman budidaya menggunakan pestisida, maka jumlah bakteri ini akan terus berkurang.

Pupuk Hayati Daun dari Mikroba Penghasil Fitohormon

Methylobacterium spp menghasilkan hormon IAA (auksin), trans zeatin (sitokinin), dan GA3 (giberelin) serta vitamin B-12 yang dibutuhkan tanaman. Pada pupuk hayati daun diutamanakan mikroba yang dapat menghasilkan fitohormon. Karena keunggulan tersebut, bakteri asal daun ini dapat digunakan sebagai selimut benih. Hal ini dibuktikan oleh Dr. Eny Widjati (staf pengajar Fakultas Teknologi Benih IPB) yang melakukan eksperimen pada benih ciherang dan cabai. Beliau merendam benih tersebut dalam larutan yang mengandung Methylobacterium. Eksperimen tersebut membuktikan bahwa Methylobacterium dapat meningkatkan daya kecambah benih 45%. Pada pertumbuhan bibit juga disemprotkan larutan Methylobacterium, hasilnya pertumbuhan menjadi 2 kali lebih cepat.

Dr. Etti Pratiwi (peneliti dari BB-Biogen) melakukan penelitian pada isolat bakteri Gluconacetobacter diazotrophicus yang sebelumnya dikenal sebagai Acetobacter diazotrophicus. Bakteri ini dikenal hidup dalam tanah dengan peran penambat N dan melarutkan P, ternyata dapat hidup dalam jariangan tanaman. Fakta mengejutkan lainnya adalah bakteri ini dapat menghasilkan fitohormon dan senyawa antimikroba penekan patogen. Di negara Brazil, Kuba, dan Costarica telah populer menggunakan Gluconacetobacter diazotrophicus sebagai pupuk daun

Meskipun penelitian pupuk hayati dengan bakteri endofitik (di dalam tanaman) tergolong baru, namun beberapa produsen mulai mendahului penggunaan pupuk hayati pada jaringan tanaman. Pengalaman empiris membuktikan bahwa penggunaan pupuk hayati yang disemprotkan pada daun dapat meningkatkan produktivitas hingga 2 kali lipat. Pada tanaman umbi penggunaan pupuk hayati pada akar dengan mikroba golongan endomikoryza.

 

Enzim dari Mikroba / Bakteri

Mikroba / bakteri tersebut dapat menghasilkan enzim dan asam amino yang mana dapat menambah dan melarutkan hara. Semakin berkembangnya teknologi, bisa jadi bukan hanya mikroba yang digunakan sebagai pupuk hayati, namun enzim yang digunakan. Di pasaran sudah beredar beragam pupuk hayati yang diklaim mengandung mikroba, hara, hormon, asam amino, dan enzim.

Menariknya, bahan baku dalam pembuatan pupuk hayati berasal dari bahan yang tidak biasa seperti rumput laut dan ikan tuna, contohnya Magic Pro, Sampi, Plantagor, dan Rite Grow. Di Australia pupuk hayati berbahan baku dari ikan tuna digunakan sejak 19 tahun silam, alasannya ikan tuna merupakan sumber asam amino seperti tripton yang mana merupakan bahan dasar hormon auksin. Rumput laut memiliki keunggulan kaya mineral dan menghasilkan hormon yang dibutuhkan tanaman, sehingga menjadikannya sebagai bahan baku pupuk hayati./trubus

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler

close

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!