Lele

Teknik Usaha Budidaya Ikan Lele dan Pemasarannya di Kabupaten Sleman

Aspek pemasaran budidaya pembesaran ikan lele ini akan dibahas tentang kondisi harga jual baik di tingkat petani atau pembudidaya maupun pedagang pengumpulnya, serta jalur pemasaran yang terjadi di lokasi penelitian dan secara umum di indonesia.

Data lapangan lebih lanjut menunjukkan bahwa produksi ikan konsumsi di Kabupaten Sleman sampai saat ini belum dapat mencukupi kebutuhan pasar masyarakat Kabupaten Sleman.

Terbukti pada tahun 2006 para pedagang ikan konsumsi dan unit usaha-unit usaha lain yang memerlukan ikan konsumsi sebagai bahan bakunya di Kabupaten Sleman masih mendatangkan pasokan ikan konsumsi (ikan air tawar) dari luar Kabupaten Sleman yaitu total sebanyak 1.756,68 ton. Ikan konsumsi/ikan segar air tawar tersebut terutama didatangkan dari Kabupaten Klaten dan Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah.

Khusus ikan lele untuk memenuhi kebutuhan warung/rumah makan yang menjajakan menu ikan lele untuk daerah Yogyakarta dan sekitarnya saja sekarang ini sudah mencapai 8 ton per hari, sedangkan kebutuhan di Jabodetabek lebih besar lagi, yaitu mencapai 40 ton per hari (Warta Pasar Ikan, 2006).

Jika satu konsumen memakan satu ekor, berarti ada sekitar 320 ribu konsumen yang makan ikan lele, hanya di daerah Jabodetabek saja. Suatu jumlah yang cukup menakjubkan dan hal ini menunjukkan adanya peluang usaha budidaya ikan lele yang masih sangat menjanjikan.

Harga Jual Ikan Lele 

Harga jual ikan lele pada tingkat pembudidaya dibedakan atas tiga jenis, yaitu harga benih ikan lele, harga ikan lele konsumsi dan harga ikan lele indukan. Harga ketiga jenis ikan lele tersebut berfl uktuasi karena pengaruh permintaan dan penawaran (pengaruh musim).

Namun secara rata-rata dapat disebutkan bahwa harga untuk benih ikan lele ukuran 2-3 cm adalah sekitar Rp22,50 per ekor, ukuran 5-6 cm sekitar Rp75,- per ekor dan ukuran 8-12 cm berharga kurang lebih Rp140,- per ekor.

Sedangkan untuk ikan lele konsumsi yang satu kg-nya berisi antara 8-12 ekor (ikan lele umur 2,5-3 bulan) berada pada kisaran harga Rp8.000,- per kg. Sementara itu untuk indukan lele harganya sekitar Rp25.000,- per kg.

Adapun untuk harga ikan lele konsumsi yang satu kg-nya berisi 8-12 ekor (paling banyak disukai konsumen) pada tingkat pedagang pengumpul adalah berkisar antara Rp9.500,- per kg (bulan April-saat stok ikan lele sedikit), sampai dengan Rp12.000,- per kg (saat Lebaran) dengan harga rata-rata adalah Rp10.000,- per kg.

Jalur Pemasaran Ikan Lele

Pemasaran ikan lele di Kabupaten Sleman seluruhnya dipasarkan untuk pasar domestik (dalam negeri), terutama di daerah Kabupaten Sleman dan sekitarnya. Secara umum jalur pemasaran ikan lele tidak jauh berbeda dengan jalur pemasaran ikan jenis lain yang dibudidayakan oleh petani.

Karena terdapat tiga jenis ikan lele yaitu benih ikan lele, ikan lele konsumsi dan ikan lele indukan, maka rantai pemasaran antara ketiga jenis ikan lele tersebut juga berbeda. Untuk benih ikan lele, bagi petani di Kabupaten Sleman yang tergabung dalam kelompok maka akan menjual benih ikan lele yang mereka hasilkan seluruhnya langsung dijual di pasar benih yang dimiliki oleh kelompok.

Pembeli – baik para pembudidaya pembesaran maupun pedagang benih ikan lele yang akan dijual lagi – langsung membeli di pasar tersebut. Sementara bagi pembudidaya yang tidak tergabung dalam kelompok cukup variatif, antara lain menunggu pembeli yang datang maupun dijual melalui tengkulak.

Adapun untuk ikan lele konsumsi hampir seluruhnya dijual langsung kepada pedagang pengumpul dengan cara diambil. Demikian juga untuk ikan lele indukan, namun ikan lele indukan biasanya pembelinya adalah para petani pembenihan ikan lele. Jalur pemasaran ikan lele di Kabupaten Sleman secara ringkas dapat dijelaskan dalam Gambar 3.9 berikut:

Kendala Pemasaran  Ikan Lele

Kendala pemasaran ikan lele yang terjadi di Kabupaten Sleman terutama dialami oleh petani/pembudidaya yang tidak tergabung dalam kelompok yaitu pemasaran sering dilakukan melalui tengkulak yang mengambil keuntungan secara berlebihan dalam rantai pemasaran tersebut.

Sedangkan bagi petani yang tergabung dalam kelompok, pemasaran yang dilakukan melalui pasar kelompok baru untuk benih ikan lele saja sedangkan yang untuk ikan lele konsumsi maupun ikan lele indukan belum. Seharusnya kelompok lebih proaktif sehingga pemasaran benih ikan lele, ikan lele konsumsi dan ikan lele indukan seluruhnya dilakukan melalui pasar kelompok.

Kendala lain adalah masih banyak petani/kelompok yang belum mampu melakukan pengolahan pasca panen akibat kurangnya pengetahuan dan teknologi. Padahal pengolahan pasca panen diperlukan jika ada hasil panen ikan lele yang tidak terjual (meskipun sangat jarang terjadi). Ikan lele tersebut bisa diawetkan dengan cara pengasapan baik dengan teknologi pengasapan panas maupun pengasapan dingin.

Hal lain yang masih menjadi kendala adalah belum mampunya petani dalam menjalin networking langsung kepada konsumen/ pelanggan khususnya pelanggan besar dalam rangka menjamin kontinuitas pasar. Petani juga masih lemah dalam menjalin komunikasi dengan komunitas pasar yang ada. Padahal hal tersebut sangat bermanfaat untuk mendapatkan akses informasi yang sempurna tentang kondisi pasar, baik dalam hal harga maupun besarnya permintaan pasar.

ASPEK TEKNIS, PRODUKSI DAN TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN LELE

Lokasi Usaha Ternak Lele
Pemilihan lokasi yang tepat untuk budidaya pembesaran ikan lele merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan ikan lele secara menguntungkan, meskipun sebenarnya tidak ada persyaratan yang rumit dalam pemilihan lokasi budidaya pembesaran ikan ini. Hal ini karena secara umum ikan lele termasuk ikan yang bisa hidup di sembarang tempat, meski demikian dalam budidayanya pemilihan lokasi yang tepat harus diperhatikan.

Syarat-syarat lokasi yang tepat harus dipenuhi agar proses budidaya pembesaran ikan lele dapat berlangsung dan berproduksi adalah sebagai berikut: a. Lokasi yang cocok untuk ikan lele cepat tumbuh adalah lokasi yang memiliki ketinggihan  10-400 m di atas permukaan laut (dpl). Ikan lele akan lambat tumbuh jika dibudidayakan di lokasi yang memiliki ketinggihan di atas 800 m dpl. b. Faktor lain adalah tekstur dan struktur tanah.

Tanah merupakan faktor mutlak dalam pembuatan kolam budidaya. Tanah yang baik akan menghasilkan kolam kokoh, terutama bagian pematang atau tanggul.  Pematang yang kokoh dapat menahan tekanan air. Dengan kata lain kolam tidak mudah jebol dan dapat menahan air.

Salah satu jenis tanah yang baik untuk kolam adalah tanah liat atau lempung berpasir dengan perbandingan 2 : 3. Tanah dengan struktur seperti ini mudah dibentuk dan tidak pecah. Namun, jika kolam pemeliharaan ikan lele ditembok atau dibeton, maka tanah tidak lagi menjadi faktor utama.

Di lokasi tersebut tersedia air dalam kualitas dan kuantitas yang mencukupi. Walaupun ikan lele dapat hidup dalam air yang keruh, kualitas air sangat mengdukung pertumbuhan ikan lele. Oleh karena itu, air yang digunakan untuk kolam budidaya harus banyak mengandung mineral, zat hara, serta tidak tercemar oleh racun atau limbah-limbah rumah tangga dan industri.

Air Kolam Ikan Lele Sangat Berpengaruh Untuk Pertumbuhannya

Air yang baik untuk pertumbuhan ikan lele adalah air bersih yang berasal dari sungai, air hujan dan air sumur. Kualitas air yang baik untuk budidaya pembesaran ikan lele haruslah memenuhi syarat variabel-variabel fi sika, kimia dan biologi yang baik, meliputi kejernihan air serta berbagai kandungan mineral di dalamnya. Berikut ini kondisi optimal air untuk budidaya pembesaran ikan lele: i) Suhu minimum 200C, suhu maksimum 300C dan suhu optimum 24– 270C. ii) Kandungan oksigen minimum 3 ppm. iii) Kandungan karbondioksida (CO2 )di bawah 15 ppm, NH3 di bawah 0,005 ppm, NO2 sekitar 0,25 ppm dan NO3 sekitar 250 ppm. iv) Tingkat derajat keasaman (pH) 6,5 – 8.

Proses Produksi Ikan Lele Dumbo

Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan hasil persilangan ikan lele lokal yang berasal dari Afrika dengan lele lokal dari Taiwan. Ikan lele dumbo pertama kali didatangkan ke Indonesia oleh sebuah perusahan swasta pada tahun 1986. Ciri khas dari ikan ini adalah sirip dadanya yang dilengkapi sirip keras dan runcing yang disebut patil.

Patil ini berguna sebagai senjata dan alat bantu untuk bergerak. Selain itu juga ada alat yang disebut “aboresent” yang bentuknya berlipat-lipat penuh dengan pembuluh darah. Dengan alat tersebut ikan ini mampu mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga dapat hidup dalam waktu yang cukup lama pada lumpur lembab bahkan tanpa air sama sekali.

Ikan lele mempunyai sifat aktif pada malam hari (noctural). Hal ini berarti bahwa ikan lele akan lebih aktif jika diberi makan pada malam hari. Pemberian pakan yang tepat, baik frekuensi ataupun jumlahnya akan lebih mengefi sienkan biaya yang diperlukan.

Pakan Alami Ikan Lele dan Alternatif Pakan Buatan

Dengan memahami sifat biologi ikan tersebut, maka pada akhirnya hanya budidaya yang paling efisien yang akan bertahan dalam persaingan. Ikan lele termasuk dalam golongan ikan karnivora atau pemakan daging. Jenis, ukuran dan jumlah pakan yang diberikan tergantung ukuran dan lele yang dipelihara. Ada dua jenis pakan ikan lele, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Disamping itu dapat pula diberikan pakan alternatif.

Pakan alami ikan lele adalah jasad-jasad renik, kutu air, cacing, jentik-jentik serangga dan sebagainya. Pakan alternatif yang biasa diberikan adalah ikan rucah atau ikan-ikan hasil tangkapan dari laut yang sudah tidak layak dikomsumsi oleh manusia, limbah peternakan ayam, daging bekicot/keong mas dan sisa-sisa dapur rumah tangga.

Yang perlu dicermati dalam pemberian pakan alternatif ini adalah bahwa pakan tersebut merupakan reservoir parasit/mikro organisme, sehingga pemanfaatan makanan tersebut akan melengkapi siklus hidup beberapa parasit ikan. Oleh karena itu pemberian pakan alternatif, terutama yang sudah jelek kualitasnya/busuk sejauh mungkin dihindari. Higienisnya pakan, cara pemberian dan penyimpanannya perlu diperhatikan benar agar transmisi parasit dan penyakit tidak terjadi pada hewan budidaya.

Dengan melihat kejelekan yang ada pada pakan alternatif/tambahan, maka seyogyanya ikan lele diberikan pakan buatan yang memenuhi persyaratan, baik nutrisinya maupun jumlahnya. Walaupun banyak nilai kebaikan dari pakan buatan, harus diperhatikan pula dari segi fi nansialnya, karena sekitar 60–65 persen biaya produksi adalah biaya untuk pembiayaan pakan. Kepadatan atau kerapatan ikan yang dibudidayakan harus disesuaikan dengan standar atau tingkatan budidaya. Peningkatan kepadatan akan menyebabkan daya dukung kehidupan ikan per individu menurun.

Jumlah Ideal Ikan Lele Dalam Kolam

Kepadatan yang terlalu tinggi (overstocking) akan meningkatkan kompetisi pakan, ikan mudah stres dan akhirnya akan menurunkan kecepatan pertumbuhan. Kepadatan ikan yang dibudidayakan secara semi intensif berkisar 1–5 kg/m2, sedangkan untuk kegiatan budidaya intensif dapat mencapai 20 kg/m2 atau setara dengan 160–200 ekor/m2 apabila berat ikan yang dipelihara berkisar 100–125 gram/ekor.

Pemisahan Ikan Lele

Pemisahan ukuran (grading) dimaksudkan untuk menghindari perebutan atau wilayah hidup (menghindari/mengurangi persaingan). Dengan pemisahan ini, maka ikan yang ukurannya kecil tidak akan kalah bersaing dan dapat melanjutkan kehidupan/pertumbuhannya secara normal. Lebih-lebih untuk ikan yang bersifat kanibal, seperti lele, apabila tidak dilakukan pemisahan maka ikan yang berukuran kecil akan menjadi mangsa dari ikan yang berukuran besar. Besarnya kematian disini bukan karena penyakit atau hama, tapi akibat dari aktivitas pemangsaan.

Selain itu pemisahan ukuran juga akan menghindari meluasnya jangkitan penyakit, karena seiring dengan pertumbuhan maka peluang untuk terinfeksi juga semakin meningkat. Secara umum usaha budidaya pembesaran ikan lele dibedakan atas dua jenis, yaitu:

1) Usaha pembesaran saja;

2) Usaha pembenihan dan pembesaran dalam satu unit usaha. Apabila usaha pembenihan dan  pembesaran dilakukan dalam satu unit usaha maka proses budidaya dimulai sejak dari proses pembenihan, selanjutnya benih ikan lele yang mereka produksi dimasukkan dalam proses pembesaran.

Sedangkan apabila usahanya pembesaran saja maka pembudidaya dapat membeli benih ikan lele dari pembudidaya lain atau pasar benih ikan atau dari Balai Benih Ikan (BBI) dan selanjutnya dilakukan proses pembesaran. Ada kebaikan atau kelebihan dari usaha pembesaran dan pembenihan dalam satu unit usaha. Diantara kelebihan tersebut adalah dapat diketahui benar–benar  kualitas benih yang akan dibudidayakan, termasuk asal usul dari induknya. Selain itu dengan lingkungan yang sama, maka benih tidak mengalami stres. Benih yang diambil dari tempat lain yang berbeda, apalagi jauh jaraknya serta penanganan yang tidak benar akan mempengaruhi kondisi benih.

Pembesaran merupakan tahap akhir dalam usaha budidaya ikan lele. Benih yang akan dibesarkan dapat berasal dari pendederan I ataupun pendederan II. Kalau benih yang berasal dari pendederan II, berarti ukuran benih sudah cukup besar, sehingga waktu yang dibutuhkan sampai panen tidak terlalu lama. Usaha semacam ini mengandung risiko yang lebih kecil, karena tingkat mortalitasnya rendah. Hasil panen yang seragam atau serempak pertumbuhannya dengan ukuran super adalah salah satu target yang harus dicapai.

Usaha Pembesaran Ikan Lele Secara Maksimal

Ada 3 (tiga) faktor penting yang harus diperhaitkan dalam usaha pembesaran, yaitu: kualitas benih, kualitas pakan yang diberikan dan kualitas airnya itu sendiri.

a) Kualitas benih  Benih yang baik berasal dari induk yang baik pula, karena itu sebaiknya benih dibeli dari tempat pembenihan yang dapat dipercaya atau yang telah mendapat rekomendasi dari pemerintah, seperti BBI. Benih baik bisa berasal dari hasil rekayasa genetika seperti lele sangkuriang, proses seleksi, proses persilangan dan sebagainya. Ciri-ciri benih yang berkualitas yaitu tubuhnya tidak cacat/luka, posisinya tidak menggantung (posisi mulut di atas), aktif bergerak dan pertumbuhannya seragam. Benih yang ditebar pembudidaya di Kabupaten Sleman umumnya berasal dari Sukabumi dan lokal. Ada juga yang mencoba benih dari Thailand.

b) Kualitas pakan Pakan yang diberikan harus tepat dan dalam jumlah yang mencukupi. Yang dimaksud tepat dalam hal ini adalah tepat ukuran, nilai nutrisi, keseragaman ukuran dan kualitas. Pada umumnya pakan yang digunakan berasal dari produksi pabrik. Pakan yang diberikan berupa pelet, dengan dosis 3–5 persen dari bobot tubuhnya perhari. Pemberian pakan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. Pakan diberikan dengan cara ditebarkan secara merata dengan harapan setiap individu akan mendapatkannya. Selain pelet, sebagai makanan tambahan diberikan limbah burung puyuh yang terlebih dahulu dicabuti bulu-bulunya. Pemberian makanan tambahan ini memang bisa menghemat biaya, tapi sebagai konsekuensinya adalah dapat membawa bibit penyakit.

c) Kualitas air Air yang digunakan untuk usaha pembesaran harus memenuhi syarat, dalam arti kandungan kimia dan fi sika harus layak. Bebas dari pencemaran dan tersedia sepanjang waktu. Sumber air yang digunakan oleh pembudidaya setempat berasal dari sungai dan sumur. Sistem pembagian air secara pararel, artinya masing-masing kolam tidak saling berhubungan. Dengan sistem ini, maka kemungkinan untuk tertulari penyakit antara satu kolam dengan lainnya dapat terhindari.

Kolam pembesaran yang ada di Kabupaten Sleman kebanyakan sifatnya permanen. Banyak yang terbuat dari tembok dengan bentuk persegi panjang (4 x 5 m) atau dengan ukuran yang lebih besar, walupun demikian masih ada yang menggunakan kolam tanah. Kolam pembesaran harus disucihamakan dulu. Cara yang paling mudah adalah dengan mengeringkan dan melakukan pengapuran. Benih yang ditebar sebaiknya dalam satu ukuran (seragam) mengingat ikan lele ini mempunyai sifat kanibal.

Benih ditebar pagi atau sore hari saat suhunya masih rendah. Hal ini untuk menghindari stres. Padat penebaran yang digunakan adalah kurang lebih 200 ekor/m3 air. Padat penebaran sebanyak ini sudah termasuk dalam kategori sistem budidaya yang intensif. Sebagai tahap terakhir adalah pemanenan hasil. Mengingat kolam yang digunakan adalah kolam tembok maka cara pemanenannya menjadi mudah.

Tinggal membuka saluran pembuangan air, sehingga airnya menjadi berkurang. Langkah selanjutnya adalah melakukan penyerokan, pemanenan dilakukan dua kali, yang pertama adalah yang berukuran besar yaitu ketika ikan lele berumur 2,5 bulan. Sisanya yang masih belum layak ditinggal pada kolam tersebut dan baru dipanen setelah berumur 3 bulan. Hasil pemanenan yang diperoleh sekitar 80 persen dari padat penebaran  200 ekor/m3 air.

Tenaga Kerja Budidaya Ternak Ikan Lele

Tenaga kerja yang dibutuhkan dalam kegiatan budidaya pembesaran ikan lele ini relatif tidak terlalu banyak. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan relatif banyak hanya pada saat pembangunan kolam beserta fasilitas pendukungnya. Tenaga kerja untuk  kegiatan  budidaya ini  dalam operasionalnya  hanya  membutuhkan 1–2 orang pekerja untuk satu unit usaha yang dilakukan secara kontinyu sepanjang tahun. Para pekerja ini umumnya dibayar secara harian/mingguan.

Pekerja antara lain melaksanakan kegiatan membeli pakan, memberikan pakan ikan lele, melakukan pembersihan, memanen serta menjaga keamanan. Keberhasilan usaha budidaya lele sangat ditentukan oleh kejujuran dan kedisiplinan karyawan atau pelaksana kerja sehari-hari. Kontrol yang ketat merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kebocoran-kebocoran yang berakibat pada pembengkakan pada biaya operasional.

Pada usaha budidaya ikan lele kebocoran yang sering terjadi adalah pada penggunaan pakan. Pemberian pakan yang berlebihan selain akan menyebabkan pembengkakan biaya operasional juga akan menurunkan produktivitas dan menurunkan kualitas perairan.

Bahan Baku, Fasilitas Produksi dan Peralatan Budidaya Ternak Lele

Input yang digunakan untuk kegiatan budidaya pembesaran ikan lele yang utama adalah benih ikan lele. Disamping itu juga membutuhkan berbagai jenis bahan habis pakai seperti pupuk kandang, kapur serta pakan.

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan budidaya ikan lele diperlukan peralatan penunjang dan sarana produksi utama budidaya ikan lele. Adapun fasilitas produksi dan jenis peralatan yang digunakan dalam satu unit usaha budidaya pembesaran ikan lele dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut:

Pertumbuhan Usaha Ternak Ikan Lele sudah meluas, tidak saja di sleman tapi seluruh indonesia sebagai kebutuhan pokok maupun kebutuhan ekspor. Salah satu contoh perkembangan di kota sleman sebagai analisa percontohan perkembangan dan teknik pemasaran. Demikian Teknik Usaha Budidaya Ikan Lele dan Pemasarannya di Kabupaten Sleman, semoga dapat menginspirasi peternak lele di kota lainnya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler

close

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!