close
Ekonomi

Usaha Ayam Buras Papua dengan Pendekatan Populasi Usaha

Menurut FAO, populasi ternak ayam di Indonesia 1,2 milyar ekor, ranking 3 dunia. Ranking 1 Cina (3,8
milyar), disusul AS (1,9 milyar). Namun dari segi produksi daging, Indonesia di ranking 10, di bawah Brasil,
Meksiko dan India.

Brasil dengan populasi ayam 1,1 milyar menghasilkan 13 juta metrik ton. Sedangkan Indonesia dengan populasi 1,2 milyar ekor menghasilkan 1,5 juta metrik ton. Artinya, tingkat produktivitas Indonesia hanya 1/8 nya Brasil. Tingkat pertumbuhan industri ayam, Indonesia 0,65%. Brasil (2%), Cina (2,9%), Vietnam (4,6%) dan India (8,2%). Untuk konsumsi daging ayam, Indonesia hanya 6 kg per kapita. Filipina (6 kg), Thailand (10), Malaysia (32) dan Brunei (40).

Pada 2016 populasi ayam buras terbesar ada di Jawa Tengah 38,2 juta ekor. Disusul Jawa Timur (29,3
juta), Jawa Barat (27,3 juta), Sulawesi Selatan (17,8 juta) dan Kalimantan Selatan (13,6 juta). Papua (1,7
juta) di urutan 28. Pertumbuhan ayam buras Papua dari 2011 ke 2012 minus 2,29%. Dari sisi ketahanan
pangan, sebagian besar kabupaten kota di Papua mengalami surplus daging ayam. Sebaliknya, dari sisi
kebutuhan telur, sebagian daerah mengalami defisit. Jika pada 2008, defisit Papua mencapai 5,5 juta kg
(daging) dan 2,8 juta kg (telur). Maka di tahun 2012, defisit daging ayam mencapai 6,9 juta kg dan telur
3,8 juta kg. Ini artinya, hanya untuk memenuhi kebutuhan daging dan telur saja, cukup besar aliran dana
yang terpaksa dikeluarkan Papua.
Boven Digoel tidak diperhitungkan dalam peta usaha peternakan di Provinsi Papua. Bahkan, Boven Digoel
masih membutuhkan pasokan dari Merauke dan Surabaya. Usaha ternak ayam buras di Boven Digoel,
menyerap tenaga kerja tertinggi ketiga di sektor peternakan di Kabupaten Boven Digul (15%), setelah babi
(61%) dan sapi potong (17%). Ayam buras merupakan golongan usaha dengan populasi ternak terbesar
(64%) di Boven Digul di atas ternak babi dan sapi.
Usaha ternak ayam buras di Boven Digoel, sebagian besar dilakukan secara sangat sederhana, sebagai
hobi dan kegiatan sambilan. Peternak belum familiar dengan mesin penetas, belum menggunakan obat
pencegah penyakit, tidak dikandangkan, dan belum menggunakan bibit unggul. Padahal pasarnya sangat
terbuka dan terus tumbuh. Keahlian budidaya relatif dapat dipelajari dan cocok sebagai mata pencaharian
bagi masyarakat asli Papua. Usaha ayam buras juga memiliki peluang besar dari sisi ketersediaan lahan
dan bahan pakan, serta fasilitasi program percepatan pembangunan dari pemerintah.
Pengembangan ayam buras di Kabupaten Boven Digoel memerlukan sinergi antar pemangku kepentingan,
baik antara pemerintah – swasta – masyarakat madani (LSM, perguruan tinggi, tokoh adat, dan sebagainya).
Kerangka dialog dan kerjasama antar pemangku kepentingan perlu dilakukan dengan melibatkan institusi/
lembaga yang teridentifikasi dalam peta pemangku kepentingan di bawah ini.

Empat isu strategis yang menjadi agenda kedepan adalah: (a) Pengembangan regulasi dan infrastruktur
pendukung iklim usaha; (b) Penguatan kapasitas lembaga pendukung untuk penguatan pengetahuan,
keterampilan dan akses peternak ke informasi, teknologi, permodalan, pasar dan jejaring; (c) Pengembangan cara beternak yang inovatif dan produktif; (d) Pembentukan wadah koordinasi dan komunikasi antar lembaga pendukung Dengan mendasarkan pada kondisi yang ada serta implementasi dari strategi yang telah dirumuskan di atas, diperlukan intervensi untuk memecahkan hambatan-hambatan utama dari rantai nilai, yang dapat memberikan dampak langsung kepada pelaku, menjangkau kelompok sasaran yang luas serta berkelanjutan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

pakan ternak, mesin pelet, mesin pertanian, peternakan, saham agro, jual benih biji buah, wisata agro, mesin pertukangan, mesin alat bangunan

Copyright © 2015 FMT. MVPT, powered by agrousaha.com

To Top
error: Content is protected !!